Santo Simeon 8 Oktober, Tokoh Israel Sejati

Santo Simeon 8 Oktober Tokoh Israel Sejati menggendong Kanak-kanak Yesus di Bait Allah

Santo Santa 8 Oktober: Simeon, Tokoh Israel Sejati yang Menantikan Keselamatan Allah

Dalam perjalanan iman umat Katolik, ada banyak tokoh Kitab Suci yang memberikan teladan tentang kesetiaan, pengharapan, dan ketekunan dalam menantikan janji Tuhan. Salah satu tokoh tersebut adalah Simeon, seorang yang disebut dalam Injil Lukas sebagai orang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Dalam sejumlah tradisi devosional, nama Simeon dikenang pada 8 Oktober. Namun, perlu dibedakan antara peringatan devosional atau daftar santo tradisional tertentu dan kalender liturgi universal Gereja Katolik. Simeon terutama dikenal umat Kristiani melalui kisah Yesus dipersembahkan di Bait Allah, sebagaimana diceritakan dalam Lukas 2:22–35.

Simeon tidak digambarkan sebagai seorang penguasa, panglima, atau tokoh politik. Kitab Suci bahkan tidak memberikan banyak informasi mengenai latar belakang kehidupannya. Namun, beberapa ayat dalam Injil Lukas sudah cukup memperlihatkan kedalaman imannya. Ia adalah seorang yang menunggu, bukan dengan putus asa, melainkan dalam iman. Ketika Maria dan Yusuf membawa Kanak-kanak Yesus ke Bait Allah, Simeon mengenali dalam diri Anak kecil itu penggenapan janji keselamatan Allah. Ia kemudian memuji Tuhan melalui kidung yang hingga sekarang dikenal dalam tradisi Gereja sebagai Nunc Dimittis atau Kidung Simeon.

Kisah Simeon mengajarkan bahwa orang yang hidup dekat dengan Allah dapat melihat karya-Nya bahkan dalam sesuatu yang tampak sederhana. Di tengah keramaian Bait Allah, Simeon melihat apa yang mungkin tidak disadari banyak orang: Sang Mesias telah datang. Kehidupannya menjadi gambaran tentang iman yang sabar menunggu, hati yang terbuka kepada Roh Kudus, serta keberanian untuk mempercayai janji Allah sampai akhirnya janji itu digenapi.

Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik

Siapakah Simeon dalam Kitab Suci?

Tokoh Simeon muncul dalam Injil Lukas 2:25–35. Kisahnya berkaitan langsung dengan peristiwa ketika Maria dan Yusuf membawa Yesus ke Yerusalem untuk mempersembahkan-Nya kepada Tuhan sesuai dengan ketentuan Hukum Taurat. Injil Lukas memperkenalkan Simeon sebagai seorang yang berada di Yerusalem. Ia digambarkan sebagai orang yang benar dan saleh, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Lebih penting lagi, Injil menyatakan bahwa Roh Kudus ada di atasnya.

Keterangan singkat ini menunjukkan kehidupan rohani Simeon yang mendalam. Ia bukan sekadar seseorang yang mengetahui nubuat tentang Mesias. Ia hidup dalam penantian yang dipenuhi iman dan keterbukaan terhadap karya Roh Kudus. Kitab Suci juga mengatakan bahwa Roh Kudus telah menyatakan kepadanya bahwa ia tidak akan meninggal sebelum melihat Mesias yang dijanjikan Tuhan.

Janji tersebut akhirnya digenapi ketika Simeon datang ke Bait Allah pada saat Maria dan Yusuf membawa Yesus. Simeon mengambil Kanak-kanak Yesus ke dalam pelukannya, memuji Allah, dan mengucapkan sebuah kidung yang menjadi salah satu doa paling indah dalam tradisi Kristiani. Pertemuan itu menjadi puncak dari penantiannya: ia akhirnya melihat dengan matanya sendiri Dia yang selama ini dinantikannya dalam iman.

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap

Simeon sebagai Tokoh Israel Sejati

Sebutan “Tokoh Israel Sejati” dapat dipahami terutama sebagai gambaran rohani atas pribadi Simeon. Ia mewakili Israel yang setia: umat yang hidup berdasarkan janji Allah dan dengan penuh pengharapan menantikan kedatangan Mesias. Sepanjang sejarah keselamatan, bangsa Israel menantikan penggenapan janji Tuhan. Para nabi berbicara mengenai keselamatan yang akan datang, sementara generasi demi generasi hidup dalam pengharapan akan karya penyelamatan Allah.

Dalam diri Simeon, penantian panjang tersebut seakan mencapai salah satu titik puncaknya. Ia berdiri sebagai seorang Israel yang setia kepada Tuhan dan akhirnya diperkenankan melihat Sang Mesias. Simeon tidak meminta tanda-tanda kemegahan duniawi. Ketika melihat seorang bayi yang dibawa oleh keluarga sederhana, ia mampu mengenali kehadiran keselamatan Allah. Di sinilah iman Simeon menjadi sangat penting. Dengan mata jasmani ia melihat seorang bayi, tetapi dengan mata iman ia melihat keselamatan Allah.

Baca juga: Santa Perawan Maria Ratu Rosario 7 Oktober

Penantian yang Berakar pada Iman

Menunggu sering dianggap sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Manusia ingin mendapatkan jawaban dengan cepat. Kita ingin doa segera dikabulkan, masalah segera selesai, dan jalan kehidupan segera menjadi jelas. Simeon memperlihatkan sikap yang berbeda. Ia menunggu tanpa kehilangan iman.

Kitab Suci tidak menjelaskan berapa lama Simeon harus menantikan penggenapan janji tersebut. Namun yang jelas, ia tetap setia sampai saat yang telah ditentukan Allah. Kehidupannya mengingatkan umat beriman bahwa waktu Tuhan tidak selalu sama dengan waktu manusia. Ada doa yang mungkin dijawab dengan segera, tetapi ada pula doa yang membutuhkan penantian panjang. Dalam kedua keadaan tersebut, orang beriman dipanggil untuk tetap percaya kepada Allah.

Baca juga: Santo Sergius dan Bakhus, Martir | 8 Oktober

Pertemuan Simeon dengan Kanak-kanak Yesus

Salah satu momen paling mengharukan dalam kisah Simeon terjadi ketika Maria dan Yusuf membawa Yesus ke Bait Allah. Secara lahiriah, tidak ada sesuatu yang tampak luar biasa. Maria dan Yusuf datang sebagai keluarga sederhana yang menaati hukum Tuhan, sementara Kanak-kanak Yesus berada dalam pelukan mereka. Namun Simeon, yang digerakkan oleh Roh Kudus, datang ke Bait Allah dan menyadari bahwa saat yang telah lama dinantikannya akhirnya tiba.

Ia menerima Anak itu dalam pelukannya dan memuji Allah. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana karya keselamatan Allah sering hadir melalui kesederhanaan. Allah tidak selalu bekerja melalui kejadian spektakuler. Ia dapat datang melalui perjumpaan biasa, melalui keluarga, melalui orang-orang sederhana, bahkan melalui peristiwa yang mungkin dianggap tidak penting oleh dunia. Simeon mampu melihat kehadiran Tuhan karena hatinya telah dipersiapkan oleh iman.

Pertemuan tersebut juga memperlihatkan bagaimana kesetiaan manusia bertemu dengan kesetiaan Allah. Simeon telah menunggu, sementara Allah tidak pernah melupakan janji-Nya. Ketika waktunya tiba, penantian itu berubah menjadi sukacita dan pujian.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Kamis, 8 Oktober 2026 Lukas 11:5-13

Kidung Simeon atau Nunc Dimittis

Doa Simeon dalam Lukas 2:29–32 kemudian dikenal sebagai Nunc Dimittis, berdasarkan kata-kata pembukanya dalam bahasa Latin. Isi kidung tersebut mengungkapkan kedamaian seseorang yang telah melihat penggenapan janji Allah. Simeon menyatakan bahwa kini ia dapat pergi dalam damai karena matanya telah melihat keselamatan yang datang dari Tuhan.

Keselamatan itu bukan hanya untuk Israel. Yesus juga disebut sebagai terang bagi bangsa-bangsa. Pernyataan tersebut sangat penting dalam Injil Lukas. Keselamatan yang dibawa Kristus memiliki dimensi universal. Mesias datang dari Israel dan menggenapi janji Allah kepada Israel, tetapi karya keselamatan-Nya ditujukan kepada seluruh umat manusia.

Dengan demikian, Simeon menjadi salah seorang saksi pertama yang menyatakan secara jelas cakupan universal karya Kristus. Kanak-kanak yang dipeluknya adalah terang yang akan menerangi bangsa-bangsa. Keselamatan Allah tidak dibatasi oleh bangsa, wilayah, atau kedudukan sosial, tetapi ditawarkan kepada seluruh umat manusia.

Nunc Dimittis dalam Tradisi Gereja

Kidung Simeon memiliki tempat istimewa dalam kehidupan doa Gereja. Dalam Liturgi Ibadat Harian, Nunc Dimittis didoakan dalam Ibadat Penutup atau Completorium. Dengan demikian, kata-kata Simeon terus bergema dalam doa Gereja dari generasi ke generasi. Pada akhir hari, umat beriman menyerahkan dirinya kepada Tuhan dengan semangat yang serupa dengan Simeon.

Ada kedamaian mendalam dalam penyerahan tersebut. Orang beriman menyadari bahwa kehidupan berada dalam tangan Allah. Simeon mengajarkan bahwa kedamaian sejati tidak berasal dari kemampuan manusia mengendalikan seluruh kehidupannya. Kedamaian lahir ketika manusia percaya bahwa janji Allah dapat diandalkan dan bahwa hidupnya berada dalam penyelenggaraan Tuhan.

Simeon dan Karya Roh Kudus

Salah satu bagian penting dari kisah Simeon adalah peranan Roh Kudus. Dalam beberapa ayat saja, Injil Lukas berulang kali menghubungkan Simeon dengan Roh Kudus. Roh Kudus ada di atasnya, Roh Kudus menyatakan kepadanya bahwa ia akan melihat Mesias, dan oleh dorongan Roh Kudus Simeon datang ke Bait Allah.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa perjumpaan Simeon dengan Kristus bukan sekadar kebetulan. Ia adalah seorang yang hidup terbuka terhadap tuntunan Roh Allah. Kehidupan batinnya membuatnya mampu mengenali dorongan Tuhan dan bertindak sesuai dengan dorongan tersebut. Karena kepekaan rohaninya, ia berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat untuk menyambut Sang Mesias.

Belajar Peka terhadap Roh Kudus

Kehidupan modern dipenuhi berbagai suara. Ada berita, media sosial, pekerjaan, kekhawatiran, ambisi, dan berbagai tuntutan kehidupan. Dalam keadaan seperti ini, suara Tuhan dapat terasa sulit dikenali. Simeon mengajarkan pentingnya membangun keheningan batin dan menyediakan ruang bagi Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepekaan rohani tidak muncul secara tiba-tiba. Ia bertumbuh melalui doa, kesetiaan, pembacaan Kitab Suci, kehidupan sakramental, serta kebiasaan mencari kehendak Allah. Semakin seseorang dekat dengan Tuhan, semakin ia belajar membedakan apa yang membawanya kepada kasih, kebenaran, kekudusan, dan kehidupan yang sesuai dengan Injil.

Nubuat Simeon kepada Maria

Pertemuan Simeon dengan Keluarga Kudus tidak hanya berisi sukacita. Setelah memberkati mereka, Simeon berbicara kepada Maria mengenai masa depan Yesus. Ia menyatakan bahwa Anak itu ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Kemudian Simeon mengatakan kepada Maria bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri.

Perkataan ini memiliki tempat penting dalam tradisi Kristiani mengenai penderitaan Maria. Maria menerima Yesus dengan iman, tetapi panggilannya sebagai Bunda Mesias tidak berarti kehidupan tanpa penderitaan. Ia kelak akan menyaksikan penolakan terhadap Putranya dan akhirnya berdiri dekat salib-Nya. Dengan demikian, sejak awal kehidupan Yesus, sukacita keselamatan telah bersentuhan dengan bayangan salib.

Sukacita dan Salib dalam Mengikuti Kristus

Nubuat Simeon mengingatkan bahwa mengikuti Kristus bukan janji kehidupan tanpa penderitaan. Iman Kristiani justru mengajarkan bahwa Allah dapat berkarya di tengah penderitaan dan membawa kehidupan melalui salib. Simeon melihat keselamatan dalam diri Kanak-kanak Yesus, tetapi ia juga menyadari bahwa karya keselamatan tersebut akan berhadapan dengan penolakan.

Yesus akan menjadi tanda yang dipertentangkan. Kenyataan ini tetap relevan bagi umat Kristiani. Mengikuti Kristus terkadang menuntut keberanian untuk mempertahankan kebenaran, mengampuni ketika terluka, mengasihi ketika sulit, tetap melakukan kebaikan ketika tidak dihargai, dan terus berharap ketika keadaan tampak gelap.

Apakah Simeon Seorang Imam?

Kitab Suci tidak menyebut Simeon sebagai imam. Hal ini penting diperhatikan agar kisahnya tidak dicampuradukkan dengan berbagai tradisi yang berkembang kemudian. Injil Lukas hanya menggambarkannya sebagai seorang yang benar dan saleh di Yerusalem yang menantikan penghiburan bagi Israel.

Demikian pula, Kitab Suci tidak secara eksplisit mengatakan bahwa Simeon adalah seorang yang sangat tua, walaupun tradisi seni dan devosi Kristiani sering menggambarkannya sebagai seorang lanjut usia. Gambaran tersebut kemungkinan berkembang karena ia telah menerima janji bahwa dirinya tidak akan meninggal sebelum melihat Mesias dan karena kata-kata Nunc Dimittis memberi kesan seseorang yang siap meninggalkan dunia dengan damai.

Karena itu, dalam membicarakan Simeon, Tokoh Israel Sejati, penting membedakan antara keterangan Kitab Suci dan tradisi devosional. Pembedaan ini tidak mengurangi nilai rohani kisah Simeon, tetapi justru membantu umat memahami tokoh tersebut secara lebih jernih dan bertanggung jawab.

Simeon dan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Tokoh Simeon memiliki hubungan sangat erat dengan perayaan Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, yang dirayakan Gereja pada 2 Februari. Perayaan tersebut juga dikenal dalam tradisi Kristiani sebagai pesta yang menekankan Kristus sebagai terang bagi bangsa-bangsa. Tema terang berasal langsung dari Kidung Simeon.

Yesus adalah terang yang menerangi bangsa-bangsa dan kemuliaan bagi umat Allah. Karena itu, Simeon tidak dapat dipisahkan dari misteri Kristus. Ia penting bukan karena mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, tetapi karena seluruh hidupnya menunjuk kepada Sang Mesias. Inilah ciri orang kudus dan tokoh iman yang sejati: mereka tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan membawa manusia semakin dekat kepada Kristus.

Teladan Simeon bagi Umat Katolik

Walaupun kisah Simeon dalam Kitab Suci relatif singkat, terdapat banyak pelajaran rohani yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesetiaannya menunjukkan bahwa kehidupan yang sederhana sekalipun dapat memiliki makna besar ketika dijalani dalam hubungan yang dekat dengan Tuhan.

1. Setia Menantikan Tuhan

Simeon tidak berhenti berharap. Ia mempercayai janji Tuhan sampai janji itu digenapi. Dalam kehidupan, kita juga mengalami masa penantian: menunggu pemulihan hubungan, pekerjaan, jalan keluar dari masalah, pertobatan seseorang, atau jawaban atas doa. Simeon mengajarkan bahwa menunggu bersama Tuhan tidak pernah sia-sia. Penantian dapat menjadi kesempatan bagi iman untuk bertumbuh semakin dalam.

2. Hidup sebagai Orang Benar dan Saleh

Injil tidak memuji Simeon karena kekayaan atau kedudukannya. Ia dikenang karena hidupnya yang benar dan saleh. Nilai manusia di hadapan Allah tidak ditentukan oleh popularitas, kekuasaan, atau keberhasilan duniawi. Yang terutama adalah kesetiaan kepada Tuhan dan kesediaan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya.

3. Terbuka terhadap Roh Kudus

Simeon datang ke Bait Allah karena dorongan Roh Kudus. Kehidupan Kristiani juga membutuhkan keterbukaan kepada Roh Kudus. Kita dapat memohon agar Roh Kudus menolong kita mengambil keputusan yang bijaksana, menghindari dosa, mengenali panggilan Tuhan, serta bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan sesama.

4. Mengenali Kristus dalam Kesederhanaan

Simeon mengenali Mesias dalam seorang bayi dari keluarga sederhana. Kita pun dipanggil untuk mengenali Kristus dalam kehidupan sehari-hari: dalam Ekaristi, Sabda Tuhan, doa, keluarga, sesama yang membutuhkan pertolongan, serta berbagai kesempatan untuk mengasihi. Tuhan sering hadir bukan melalui sesuatu yang spektakuler, tetapi melalui kesetiaan dalam perkara-perkara sederhana.

5. Menyerahkan Hidup kepada Tuhan dengan Damai

Kidung Simeon merupakan doa penyerahan. Setelah melihat keselamatan Allah, ia siap menyerahkan hidupnya dengan damai. Sikap ini mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan kedamaian pada keberhasilan duniawi. Kedamaian terdalam datang ketika kita mengetahui bahwa hidup berada dalam tangan Tuhan dan percaya bahwa Dia tetap bekerja bahkan ketika kita belum memahami jalan-Nya.

Makna Simeon bagi Kehidupan Orang Beriman Masa Kini

Kisah Simeon terasa semakin relevan dalam dunia yang serba cepat. Manusia modern terbiasa mendapatkan banyak hal secara instan. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, informasi ditemukan dalam sekejap, dan berbagai kebutuhan dapat diperoleh dengan cepat. Akibatnya, menunggu menjadi semakin sulit.

Namun kehidupan rohani tidak selalu bekerja dengan kecepatan seperti itu. Pertumbuhan iman membutuhkan waktu, pertobatan membutuhkan proses, pengampunan membutuhkan perjuangan, dan jawaban Tuhan terhadap doa terkadang membutuhkan penantian. Simeon menunjukkan bahwa masa menunggu tidak harus menjadi masa kosong. Masa menunggu dapat menjadi masa pembentukan.

Allah dapat menggunakan penantian untuk memurnikan keinginan kita, memperdalam iman, mengajarkan kesabaran, serta mempersiapkan hati menerima sesuatu yang lebih besar. Karena itu, penantian seorang beriman bukanlah sikap pasif. Kita tetap berdoa, bekerja, berbuat baik, dan melaksanakan tanggung jawab sambil mempercayakan hasil akhirnya kepada Tuhan.

Renungan Santo Santa 8 Oktober: Apakah Kita Masih Mau Menunggu Tuhan?

Salah satu pertanyaan yang dapat kita renungkan dari kehidupan Simeon adalah: apakah kita masih percaya kepada Tuhan ketika jawaban belum datang? Mudah mengatakan bahwa kita percaya ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan. Namun iman diuji ketika kita harus menunggu.

Simeon tidak mengetahui setiap detail mengenai bagaimana janji Tuhan akan digenapi. Ia hanya percaya dan tetap setia. Ketika saat itu tiba, ia siap mengenalinya. Ada bahaya bahwa kita begitu sibuk meminta Tuhan memenuhi rencana kita sehingga tidak menyadari bagaimana Tuhan sedang menjalankan rencana-Nya sendiri.

Simeon mengajak kita memiliki hati yang berjaga-jaga. Mungkin Tuhan menjawab doa kita dengan cara yang berbeda dari harapan. Mungkin pertolongan-Nya datang melalui orang yang tidak kita sangka. Mungkin jalan yang diberikan Tuhan tidak sama dengan jalan yang kita rencanakan. Iman berarti berani mengatakan, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu, bahkan ketika aku belum memahami semuanya.”

Kepercayaan seperti ini bukan berarti kita berhenti berusaha. Justru karena percaya kepada Tuhan, kita dapat terus menjalankan kewajiban dengan tekun tanpa dikuasai kecemasan. Kita melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya sambil menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia.

Menjadi Pembawa Pengharapan seperti Simeon

Simeon bukan hanya seorang yang berharap. Setelah melihat Yesus, ia juga menjadi saksi pengharapan. Ia menyatakan bahwa Anak itu adalah keselamatan Allah dan terang bagi bangsa-bangsa. Umat Katolik pun dipanggil menjadi pembawa pengharapan di tengah dunia.

Kita hidup di tengah masyarakat yang menghadapi banyak kecemasan, konflik, kesepian, ketidakpastian ekonomi, persoalan keluarga, dan berbagai penderitaan. Dalam keadaan tersebut, orang Kristiani dipanggil untuk tidak menambah keputusasaan, tetapi membawa terang Kristus melalui perkataan dan tindakan.

Caranya tidak harus melalui tindakan besar. Sebuah perkataan yang menguatkan, kesediaan mendengarkan, bantuan kepada orang yang membutuhkan, pengampunan, kesabaran terhadap anggota keluarga, kejujuran dalam pekerjaan, serta kesetiaan dalam tugas sehari-hari dapat menjadi bentuk kesaksian iman. Seperti Simeon, kita membawa pengharapan bukan karena kehidupan selalu mudah, tetapi karena kita percaya bahwa Kristus adalah terang bagi bangsa-bangsa.

Doa Memohon Iman dan Pengharapan dengan Teladan Simeon

Ya Allah, Bapa yang penuh kasih, Engkau setia kepada setiap janji-Mu. Engkau telah menuntun Simeon untuk menantikan kedatangan Sang Mesias dengan iman, kesabaran, dan pengharapan.

Ajarlah kami untuk tetap percaya kepada-Mu ketika doa kami belum mendapatkan jawaban dan ketika jalan hidup kami belum terlihat jelas. Curahkanlah Roh Kudus-Mu agar kami mampu mengenali kehadiran Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Berilah kami hati yang setia, mata iman yang jernih, dan keberanian untuk mengikuti kehendak-Mu. Semoga melalui teladan Simeon, kami belajar menantikan Engkau dengan penuh pengharapan dan menyerahkan seluruh kehidupan kami ke dalam tangan-Mu.

Semoga kami pun menjadi pembawa terang Kristus bagi keluarga, Gereja, dan sesama kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Penutup

Simeon, Tokoh Israel Sejati, memberikan teladan sederhana tetapi sangat mendalam mengenai kehidupan yang dipenuhi iman. Ia adalah orang benar dan saleh yang menantikan penghiburan Israel. Ia hidup dalam keterbukaan terhadap Roh Kudus dan tetap percaya kepada janji Tuhan. Ketika Maria dan Yusuf membawa Kanak-kanak Yesus ke Bait Allah, Simeon mampu melihat sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang tampak di depan mata: ia melihat keselamatan, terang bagi bangsa-bangsa, dan penggenapan janji Allah.

Kisah Simeon mengingatkan kita bahwa kehidupan beriman bukan hanya tentang memperoleh apa yang kita minta kepada Tuhan. Iman adalah perjalanan untuk semakin mempercayakan diri kepada-Nya. Ketika jawaban belum datang, tetaplah berharap. Ketika jalan belum jelas, tetaplah percaya. Ketika hidup terasa berat, tetaplah membuka hati kepada Roh Kudus.

Seperti Simeon, semoga kita belajar menjalani setiap masa penantian bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan kesetiaan. Kita mungkin tidak mengetahui kapan dan bagaimana Tuhan akan menjawab doa-doa kita, tetapi kita percaya bahwa Allah tetap berkarya. Pada akhirnya, Simeon menunjukkan bahwa orang yang setia menantikan Tuhan akan menemukan bahwa pusat pengharapan sejati bukanlah terpenuhinya setiap keinginan manusia, melainkan perjumpaan dengan Yesus Kristus, Sang Keselamatan dan Terang bagi bangsa-bangsa.


Demikianlah Santo Simeon 8 Oktober, Tokoh Israel Sejati, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url