Santo Pasifikus, Pengaku Iman – 24 September
Santo Pasifikus dari San Severino, Pengaku Iman – Santo Santa 24 September
Santo Santa 24 September memperingati salah satu imam Fransiskan yang dikenal karena kehidupan doa, kesederhanaan, kesabaran dalam penderitaan, dan kesetiaannya kepada Tuhan, yaitu Santo Pasifikus dari San Severino (Saint Pacificus of San Severino).
Santo Pasifikus bukanlah seorang tokoh yang terkenal karena memegang jabatan tinggi dalam Gereja atau melakukan karya besar yang menarik perhatian dunia. Sebaliknya, kekudusannya bertumbuh melalui kehidupan yang tersembunyi: doa, pelayanan sebagai imam, ketaatan, kemiskinan, serta kesabaran ketika penyakit membatasi aktivitasnya.
Ia menjadi teladan bahwa kekudusan tidak selalu ditemukan dalam tindakan-tindakan luar biasa. Sering kali jalan menuju kekudusan justru terbentang melalui kesetiaan dalam perkara-perkara sederhana yang dilakukan setiap hari dengan kasih kepada Allah.
Gereja mengenang Santo Pasifikus, Pengaku Iman, pada 24 September. Hidupnya mengajak umat beriman untuk menemukan Tuhan bukan hanya ketika hidup berjalan sesuai keinginan, tetapi juga ketika kita berhadapan dengan kelemahan, keterbatasan, penyakit, kesepian, dan penderitaan.
Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman
Siapakah Santo Pasifikus dari San Severino?
Santo Pasifikus dari San Severino adalah seorang imam dari Ordo Saudara Dina atau Fransiskan yang hidup di Italia pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18.
Ia lahir dengan nama Carlo Antonio Divini pada 1 Maret 1653 di San Severino, wilayah Marche, Italia. Dalam usia yang masih sangat muda, Carlo harus mengalami kehilangan besar karena kedua orang tuanya meninggal dunia.
Menjadi yatim piatu tentu bukan pengalaman yang mudah bagi seorang anak. Namun, pengalaman kehilangan dan penderitaan pada masa mudanya kemudian menjadi bagian dari perjalanan rohaninya.
Ketika bertumbuh dewasa, Carlo semakin tertarik pada kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Tuhan. Ia kemudian memilih mengikuti spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi, yang menekankan kemiskinan Injili, kerendahan hati, ketaatan, doa, dan kasih kepada sesama.
Ketika memasuki kehidupan Fransiskan, ia menerima nama religius Pasifikus.
Nama tersebut seolah menggambarkan panggilannya. Kata Pacificus berkaitan dengan kedamaian atau pembawa damai. Sepanjang hidupnya, Santo Pasifikus berusaha menghadirkan damai Kristus melalui doa, pewartaan, pelayanan, serta penerimaan terhadap penderitaan.
Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik
Masa Kecil Santo Pasifikus
Kehidupan Santo Pasifikus sejak awal tidak terlepas dari penderitaan.
Carlo Antonio Divini kehilangan orang tuanya ketika masih kecil. Ia kemudian dibesarkan oleh kerabatnya. Kehilangan kasih dan perlindungan orang tua pada usia muda tentu meninggalkan tantangan tersendiri.
Namun pengalaman tersebut tidak membuatnya menjauh dari Tuhan.
Sebaliknya, kehidupan yang penuh keterbatasan membentuk hatinya untuk semakin mencari sesuatu yang lebih dalam daripada keamanan duniawi.
Dalam perjalanan hidup orang-orang kudus, kita sering menemukan pola yang serupa. Kesulitan tidak selalu menjadi penghalang menuju Tuhan. Jika diterima dalam iman, kesulitan bahkan dapat menjadi kesempatan untuk semakin menyerahkan diri kepada-Nya.
Santo Pasifikus menjadi contoh nyata bagaimana luka kehidupan tidak harus menjadi akhir dari harapan.
Tuhan dapat memakai pengalaman yang sulit untuk membentuk hati manusia menjadi lebih lembut, rendah hati, dan peka terhadap penderitaan sesama.
Baca juga: Santo Vinsensius Maria Strambi, Uskup – 24 September
Panggilan Santo Pasifikus Menjadi Fransiskan
Ketika memasuki usia muda, Carlo merasakan panggilan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan mempersembahkan dirinya kepada Allah.
Sekitar usia tujuh belas tahun, ia memasuki kehidupan religius Fransiskan di lingkungan Ordo Saudara Dina Reformasi.
Di sinilah Carlo Antonio menerima nama Pasifikus.
Pilihan menjadi seorang Fransiskan berarti menerima cara hidup yang menuntut kesederhanaan. Seorang Fransiskan dipanggil untuk mengikuti Kristus yang miskin dan rendah hati dengan meneladan semangat Santo Fransiskus dari Assisi.
Pasifikus menjalani pembentukan rohani dengan sungguh-sungguh. Ia belajar Kitab Suci, teologi, kehidupan doa, disiplin religius, serta berbagai hal yang diperlukan untuk pelayanan Gereja.
Namun pendidikan tersebut bukan hanya soal pengetahuan.
Bagi seorang calon imam dan religius, pembentukan yang paling penting adalah pembentukan hati.
Pasifikus belajar menyerahkan kehendaknya kepada Tuhan melalui ketaatan. Ia juga belajar menemukan kebahagiaan bukan dalam kepemilikan, melainkan dalam hubungan yang semakin mendalam dengan Kristus.
Baca juga: Sakramen Imamat: Pengertian, Makna dan Tingkatannya
Santo Pasifikus Ditahbiskan Menjadi Imam
Setelah menjalani masa pendidikan dan pembinaan, Pasifikus akhirnya ditahbiskan menjadi imam.
Sebagai imam Fransiskan, ia menjalankan berbagai pelayanan yang dipercayakan kepadanya.
Pada suatu periode kehidupannya, ia juga terlibat dalam kegiatan pendidikan dan pembinaan. Namun salah satu pelayanan yang kemudian sangat menonjol adalah pewartaan Sabda Tuhan.
Santo Pasifikus dikenal sebagai pengkhotbah yang bersemangat.
Ia pergi ke berbagai tempat untuk menyampaikan Injil kepada umat. Pewartaannya bukan sekadar kemampuan berbicara dengan baik. Kehidupan pribadi seorang pewarta menjadi kesaksian yang memperkuat kata-katanya.
Orang dapat mendengar khotbah mengenai kesabaran, tetapi kesaksian seseorang yang benar-benar sabar jauh lebih kuat.
Orang dapat mendengar khotbah mengenai kemiskinan rohani, tetapi kehidupan seseorang yang sungguh hidup sederhana sering kali berbicara lebih dalam.
Demikian pula dengan Santo Pasifikus.
Pewartaannya memperoleh kekuatan dari kehidupan doa dan kesederhanaannya sendiri.
Baca juga: Santo Nikolas dari Flue, Pengaku Iman | 25 September
Pelayanan Santo Pasifikus sebagai Pengkhotbah
Salah satu bagian penting dalam riwayat Santo Pasifikus dari San Severino adalah pelayanannya sebagai pengkhotbah.
Ia mewartakan Injil dan mengajak umat untuk kembali kepada Tuhan.
Dalam tradisi Fransiskan, pewartaan bukan hanya penyampaian ajaran. Pewartaan harus membawa manusia kepada pertobatan.
Semangat tersebut sangat dekat dengan teladan Santo Fransiskus dari Assisi, yang menginginkan agar para saudaranya membawa damai, pertobatan, dan kasih Kristus ke tengah masyarakat.
Santo Pasifikus menjalankan semangat itu.
Ia mengingatkan umat bahwa kehidupan manusia tidak berhenti pada kesuksesan, kekayaan, kehormatan, atau kenyamanan dunia.
Manusia diciptakan untuk Allah.
Karena itu, pertobatan bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan sekali. Pertobatan merupakan perjalanan sepanjang kehidupan untuk terus mengarahkan hati kepada Tuhan.
Namun Tuhan kemudian mengizinkan Santo Pasifikus mengalami keadaan yang mengubah arah pelayanannya secara drastis.
Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Kamis, 24 September 2026 Lukas 9:7-9
Ketika Penyakit Mengubah Pelayanannya
Santo Pasifikus mengalami penyakit yang berat dan berkepanjangan. Kondisi kesehatannya semakin membatasi kemampuan fisiknya.
Ia bahkan mengalami gangguan serius pada penglihatan dan pendengarannya.
Bagi seorang pengkhotbah, keadaan seperti itu tentu sangat berat.
Seseorang yang terbiasa berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk berkhotbah tiba-tiba harus menghadapi kenyataan bahwa tubuhnya tidak lagi mampu menjalankan pelayanan seperti sebelumnya.
Di sinilah salah satu pelajaran terbesar dari kehidupan Santo Pasifikus, Pengaku Iman, dapat ditemukan.
Ia tidak berhenti menjadi pelayan Tuhan ketika tubuhnya tidak lagi kuat.
Bentuk pelayanannya berubah.
Dahulu ia mewartakan Kristus melalui khotbah dan perjalanan kerasulan. Ketika penyakit membatasi dirinya, ia semakin mewartakan Kristus melalui kesabaran, doa, dan penerimaan terhadap penderitaan.
Kesabaran Santo Pasifikus dalam Penderitaan
Penderitaan merupakan salah satu misteri terbesar kehidupan manusia.
Tidak seorang pun secara alami menginginkan sakit, kehilangan, atau keterbatasan.
Namun iman Katolik mengajarkan bahwa penderitaan yang dipersatukan dengan Kristus dapat memperoleh makna yang lebih dalam.
Santo Pasifikus memahami hal ini.
Ia tidak melihat penyakit sebagai alasan untuk meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, keterbatasan tersebut menjadi jalan baginya untuk semakin dekat dengan Kristus yang menderita.
Kesabarannya bukan berarti bahwa rasa sakit menjadi mudah.
Kesabaran Kristiani bukanlah berpura-pura bahwa penderitaan tidak menyakitkan.
Kesabaran Kristiani berarti tetap percaya kepada Allah bahkan ketika kita tidak memahami alasan di balik apa yang terjadi.
Santo Pasifikus menjalani penderitaannya dengan semangat penyerahan diri.
Ia menjadikan kehidupan doanya sebagai pusat kekuatannya.
Ketika aktivitas luar semakin berkurang, kehidupan batinnya justru semakin mendalam.
Kehidupan Doa Santo Pasifikus
Di balik pelayanan dan penderitaannya, kehidupan Santo Pasifikus dari San Severino sangat ditandai oleh doa.
Doa bukan sekadar kegiatan tambahan dalam kehidupannya.
Doa merupakan pusat hidupnya.
Sebagai seorang Fransiskan, ia dibentuk untuk melihat Kristus sebagai pusat segala sesuatu. Kesederhanaan, kemiskinan, pelayanan, dan pertobatan hanya memiliki arti apabila semuanya membawa manusia kepada persatuan dengan Tuhan.
Tradisi mengenai kehidupannya juga menghubungkan Santo Pasifikus dengan pengalaman-pengalaman mistik dan karunia rohani tertentu. Dalam membaca kisah semacam ini, umat Katolik perlu membedakan antara data biografis yang dapat dipastikan secara historis dan berbagai tradisi devosional yang berkembang dalam riwayat para kudus.
Hal terpenting bukanlah mengejar hal-hal luar biasa.
Pesan utama kehidupan Santo Pasifikus justru terletak pada sesuatu yang dapat dilakukan oleh setiap umat beriman: berdoa dengan setia dan menyerahkan kehidupan kepada Allah.
Mengapa Santo Pasifikus Disebut Pengaku Iman?
Dalam tradisi Gereja Katolik, istilah Pengaku Iman atau Confessor memiliki arti khusus.
Sebutan tersebut tidak hanya berarti seseorang yang menerima Sakramen Tobat atau mendengarkan pengakuan dosa.
Dalam penggunaan tradisional mengenai orang kudus, seorang Pengaku Iman adalah orang yang memberikan kesaksian tentang iman kepada Kristus melalui kehidupan yang kudus dan setia, tetapi tidak meninggal sebagai martir karena dibunuh akibat imannya.
Karena itu, Santo Pasifikus dikenal sebagai Pengaku Iman.
Ia tidak menumpahkan darah sebagai martir, tetapi seluruh hidupnya menjadi kesaksian iman.
Kesetiaan dalam kehidupan religius, pelayanan sebagai imam, pewartaan Injil, kemiskinan, doa, serta kesabarannya menghadapi penyakit menjadi bentuk pengakuan iman yang nyata.
Hidupnya menunjukkan bahwa menjadi saksi Kristus tidak selalu berarti menghadapi penganiayaan besar.
Kesetiaan sehari-hari pun dapat menjadi kesaksian iman.
Wafatnya Santo Pasifikus dari San Severino
Setelah menjalani kehidupan yang dipenuhi doa, pelayanan, dan penderitaan, Santo Pasifikus mengakhiri perjalanan duniawinya di San Severino.
Ia wafat pada 24 September 1721.
Tanggal wafatnya kemudian menjadi tanggal peringatannya dalam tradisi Gereja.
Bagi umat Kristiani, kematian seorang kudus bukan dipandang sekadar sebagai akhir kehidupan duniawi.
Kematian dipandang dalam terang kebangkitan Kristus.
Orang kudus telah menyelesaikan perjalanan imannya dan diharapkan memasuki persekutuan kekal bersama Allah.
Karena itu, setiap tanggal 24 September, kita tidak hanya mengenang kematian Santo Pasifikus, tetapi terutama mengenang kesetiaan hidupnya kepada Tuhan.
Beatifikasi dan Kanonisasi Santo Pasifikus
Setelah wafatnya, penghormatan terhadap kesalehan Santo Pasifikus terus berkembang.
Gereja kemudian melakukan proses resmi untuk meneliti kehidupan, kebajikan, serta reputasi kekudusannya.
Pasifikus dibeatifikasi oleh Paus Pius VI pada tahun 1786.
Beberapa dekade kemudian, ia dikanonisasi sebagai santo oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1839.
Kanonisasi berarti Gereja secara resmi menyatakan bahwa seseorang termasuk dalam persekutuan para kudus dan dapat dihormati oleh umat beriman.
Namun kanonisasi tidak berarti Gereja “menciptakan” seseorang menjadi kudus.
Kanonisasi merupakan pengakuan resmi Gereja atas kekudusan seseorang yang diyakini telah hidup dalam kesetiaan yang luar biasa kepada Allah dan kini berada dalam kemuliaan bersama-Nya.
Teladan Santo Pasifikus bagi Umat Katolik
Meskipun Santo Pasifikus hidup beberapa abad yang lalu, pengalaman rohaninya tetap sangat relevan bagi kehidupan umat Katolik saat ini.
1. Tetap Percaya Ketika Hidup Tidak Berjalan Sesuai Rencana
Santo Pasifikus memiliki pelayanan sebagai pengkhotbah. Namun penyakit membuatnya tidak dapat terus menjalankan pelayanan dengan cara yang sama.
Kita pun sering memiliki rencana.
Kita merencanakan pendidikan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, keuangan, dan masa depan.
Namun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ketika hal tersebut terjadi, Santo Pasifikus mengajarkan satu pertanyaan penting:
“Tuhan, bagaimana aku dapat tetap mengasihi dan melayani-Mu dalam keadaan ini?”
Mungkin kita tidak dapat melakukan apa yang dahulu bisa kita lakukan.
Namun selama hidup masih diberikan, selalu ada kesempatan untuk mengasihi Tuhan.
2. Menemukan Nilai dalam Kesetiaan yang Tersembunyi
Dunia sering mengukur keberhasilan berdasarkan sesuatu yang terlihat.
Berapa banyak pencapaian kita?
Seberapa terkenal kita?
Seberapa besar pengaruh kita?
Namun kehidupan para kudus menunjukkan ukuran yang berbeda.
Allah melihat hati.
Santo Pasifikus menghabiskan sebagian besar masa akhirnya dalam keterbatasan fisik. Dari sudut pandang dunia, produktivitasnya mungkin tampak berkurang.
Namun di hadapan Allah, kehidupan doa dan penyerahan dirinya tetap memiliki nilai yang besar.
Ini menjadi penghiburan bagi siapa pun yang merasa dirinya tidak mampu melakukan banyak hal.
Kekudusan tidak diukur berdasarkan popularitas.
Kekudusan diukur berdasarkan kasih dan kesetiaan kepada Allah.
3. Menjadikan Doa sebagai Kekuatan
Ketika banyak hal tidak lagi dapat dilakukan, Santo Pasifikus tetap dapat berdoa.
Doa tidak membutuhkan kekayaan.
Doa tidak membutuhkan kedudukan.
Doa tidak membutuhkan tubuh yang sempurna.
Yang dibutuhkan adalah hati yang terbuka kepada Tuhan.
Kita dapat berdoa ketika sehat maupun sakit, ketika bahagia maupun sedih, ketika memiliki banyak hal maupun ketika kehilangan segalanya.
Karena itu, kehidupan Santo Pasifikus mengingatkan kita untuk tidak menjadikan doa sebagai pilihan terakhir.
Doa seharusnya menjadi napas kehidupan rohani.
4. Belajar Menerima Keterbatasan
Manusia modern sering didorong untuk menjadi lebih cepat, lebih produktif, dan lebih berhasil.
Namun setiap manusia memiliki keterbatasan.
Santo Pasifikus mengajarkan bahwa keterbatasan tidak membuat hidup kehilangan nilai.
Kita tetap dikasihi Tuhan ketika kita lemah.
Kita tetap dapat menjadi berkat ketika kemampuan kita terbatas.
Bahkan dalam kelemahan, seseorang dapat memberikan kesaksian tentang iman melalui kesabaran, kasih, dan pengharapan.
Refleksi Santo Santa 24 September
Peringatan Santo Santa 24 September mengundang kita untuk melihat kembali cara kita menilai kehidupan.
Apakah kita hanya merasa berharga ketika mampu melakukan banyak hal?
Apakah kita hanya merasa Tuhan dekat ketika semuanya berjalan baik?
Bagaimana sikap kita ketika doa belum mendapatkan jawaban seperti yang kita harapkan?
Santo Pasifikus menunjukkan bahwa iman yang dewasa bukan hanya iman yang bersyukur ketika menerima berkat.
Iman yang dewasa juga mampu berkata:
“Tuhan, aku tetap percaya kepada-Mu meskipun aku belum memahami jalan ini.”
Kita mungkin sedang mengalami kegagalan.
Kita mungkin sedang merawat anggota keluarga yang sakit.
Kita mungkin sedang menghadapi masalah ekonomi.
Kita mungkin merasa doa-doa kita belum mendapatkan jawaban.
Atau mungkin kita sedang memasuki masa kehidupan ketika kemampuan fisik tidak lagi seperti dahulu.
Dalam keadaan seperti itu, teladan Santo Pasifikus mengingatkan bahwa Tuhan belum selesai berkarya.
Tidak ada kehidupan yang sia-sia apabila dipersembahkan kepada-Nya.
Pesan Santo Pasifikus untuk Kehidupan Sehari-hari
Kita tidak harus menjadi imam Fransiskan untuk meneladani Santo Pasifikus.
Kita dapat mempraktikkan semangatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Mulailah hari dengan doa sederhana sebelum membuka berbagai kesibukan.
Terimalah tugas sehari-hari sebagai kesempatan untuk melayani Tuhan.
Bersabarlah ketika menghadapi orang yang sulit.
Jangan mudah kehilangan pengharapan ketika rencana gagal.
Berikan perhatian kepada orang sakit, lanjut usia, atau mereka yang merasa kesepian.
Dan ketika kita sendiri mengalami kelemahan, jangan menganggap diri tidak berguna.
Semua itu tampak sederhana.
Namun kekudusan sering kali memang dibangun dari kesetiaan-kesetiaan kecil yang dilakukan terus-menerus dengan kasih yang besar.
Doa Memohon Rahmat melalui Teladan Santo Pasifikus
Ya Allah Bapa yang Mahabaik,
kami bersyukur kepada-Mu atas teladan kehidupan Santo Pasifikus dari San Severino.
Engkau memanggilnya untuk mengikuti Kristus dalam kehidupan yang sederhana, dalam pelayanan sebagai imam, dalam pewartaan Injil, dan terutama dalam kesabaran menghadapi penderitaan.
Berilah kami hati yang teguh dalam iman ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan keinginan kami.
Ajarlah kami untuk tidak kehilangan pengharapan ketika menghadapi penyakit, kelemahan, kegagalan, dan berbagai keterbatasan.
Semoga melalui teladan dan doa Santo Pasifikus, kami semakin mampu menyerahkan seluruh kehidupan kami kepada-Mu.
Bantulah kami untuk tekun dalam doa, rendah hati dalam pelayanan, sabar dalam penderitaan, dan setia mengikuti Yesus Kristus setiap hari.
Santo Pasifikus dari San Severino,
doakanlah kami.
Semoga seluruh kehidupan kami menjadi persembahan yang berkenan kepada-Mu.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.
Penutup: Santo Pasifikus, Teladan Kesetiaan dalam Penderitaan
Kisah Santo Pasifikus dari San Severino menunjukkan bahwa kehidupan yang kudus tidak harus dipenuhi pencapaian yang spektakuler.
Ia menjadi kudus melalui kesetiaan.
Ia setia ketika dapat berkhotbah.
Ia tetap setia ketika penyakit membuatnya tidak lagi mampu berkhotbah seperti dahulu.
Ia setia dalam pelayanan dan tetap setia dalam penderitaan.
Inilah pesan yang dapat kita bawa dari peringatan Santo Pasifikus, Pengaku Iman, pada 24 September: keadaan kehidupan dapat berubah, kesehatan dapat menurun, rencana dapat gagal, dan kemampuan manusia dapat menjadi terbatas, tetapi kesempatan untuk mengasihi Tuhan tidak pernah hilang.
Semoga teladan Santo Pasifikus membantu kita memahami bahwa hidup yang dipersembahkan kepada Allah tidak pernah sia-sia.
Mari kita belajar menjalani hari-hari kita dengan doa, kesabaran, kerendahan hati, dan kepercayaan kepada penyelenggaraan Tuhan.
Jika kisah Santo Pasifikus ini bermanfaat bagi Anda, bagikanlah kepada keluarga dan sahabat. Mungkin melalui satu kali berbagi, Anda dapat menjadi jalan Tuhan untuk menguatkan seseorang yang sedang menghadapi sakit, kelemahan, atau masa sulit dalam hidupnya.
Demikianlah Santo Pasifikus, Pengaku Iman – 24 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
