Santo Vinsensius Maria Strambi, Uskup – 24 September

Santo Vinsensius Maria Strambi Uskup dan imam Passionis yang diperingati 24 September

Santo Vinsensius Maria Strambi, Uskup – Santo Santa 24 September

Setiap tanggal 24 September, kita mengenang Santo Vinsensius Maria Strambi, seorang uskup, imam Passionis, pewarta sengsara Kristus, pembimbing rohani, dan gembala yang dikenal karena perhatian besarnya kepada kaum miskin.

Santo Vinsensius Maria Strambi hidup pada masa yang tidak mudah bagi Gereja. Pergolakan politik Eropa, Revolusi Prancis, dan kekuasaan Napoleon membawa tekanan besar terhadap kehidupan Gereja. Dalam keadaan seperti itu, ia memilih tetap setia kepada Kristus dan Gereja, bahkan ketika kesetiaan tersebut membawanya kepada pengasingan.

Namun kekudusan Santo Vinsensius tidak hanya terlihat ketika ia menghadapi penguasa. Kekudusannya terutama tampak dalam kehidupan sehari-hari: melalui doa, pewartaan, kesederhanaan, pelayanan kepada orang miskin, pembinaan para imam, dan kesediaannya memikul salib bersama umat yang dipercayakan kepadanya.

Kisah hidup Santo Vinsensius Maria Strambi mengingatkan kita bahwa seorang gembala sejati bukanlah orang yang mencari kedudukan, melainkan orang yang bersedia memberikan dirinya bagi kawanan yang dipercayakan Tuhan kepadanya.

Baca juga: Santo Santa Bulan September dan Teladan Iman

Siapa Santo Vinsensius Maria Strambi?

Santo Vinsensius Maria Strambi atau Vincenzo Maria Strambi lahir di Civitavecchia, Italia, pada 1 Januari 1745. Ia kemudian menjadi imam dan bergabung dengan Kongregasi Sengsara Yesus Kristus atau Passionis, sebuah kongregasi yang didirikan oleh Santo Paulus dari Salib.

Sumber resmi Kongregasi Passionis mencatat bahwa Vinsensius ditahbiskan menjadi imam pada 29 Desember 1767. Ia kemudian mengikrarkan profesi religius sebagai seorang Passionis pada 24 September 1769. Tanggal profesinya inilah yang juga menjadi tanggal peringatannya dalam kalender Kongregasi Passionis.

Dalam Kongregasi Passionis, Vinsensius berkembang menjadi seorang pewarta yang sangat berpengaruh. Ia berkeliling ke berbagai wilayah Italia untuk mewartakan Injil dan terutama mengajak umat merenungkan Sengsara Yesus Kristus.

Kemampuannya sebagai pengkhotbah membuatnya dikenal luas. Ia bahkan diminta berkhotbah di Roma dan memberikan latihan rohani kepada para imam, uskup, kardinal, serta orang-orang yang bekerja di lingkungan Kuria Roma. Dalam tradisi Passionis, ia dikenal sebagai seorang pengkhotbah suci yang mengarahkan umat kepada Kristus yang tersalib.

Baca juga: Kalender Liturgi September 2026 Katolik

Masa Muda dan Panggilan Menjadi Imam

Sejak masa mudanya, Vinsensius menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan rohani. Jalan panggilannya tidak langsung membawanya menjadi seorang religius Passionis. Ia terlebih dahulu menjalani pembentukan menuju imamat dan akhirnya menerima tahbisan imam pada tahun 1767.

Namun hatinya terus mencari bentuk penyerahan diri yang lebih mendalam kepada Tuhan.

Pertemuannya dengan spiritualitas Santo Paulus dari Salib, pendiri Kongregasi Passionis, menjadi sangat penting. Spiritualitas Passionis menempatkan Sengsara Kristus sebagai pusat permenungan dan pewartaan.

Bagi seorang Passionis, salib bukan sekadar simbol penderitaan. Salib adalah tanda kasih Allah yang memberikan diri sepenuhnya demi keselamatan manusia.

Vinsensius merasakan panggilan untuk menjalani kehidupan tersebut.

Baca juga: Santo Gerardus dari Hungaria, Uskup dan Martir

Bergabung dengan Kongregasi Passionis

Keinginannya memasuki Kongregasi Passionis pada awalnya menghadapi keberatan dari keluarganya. Sumber sejarah Passionis mencatat adanya komunikasi antara Santo Paulus dari Salib dan ayah Vinsensius, yang semula menentang keinginannya memasuki kongregasi tersebut. Vinsensius akhirnya masuk ke Kongregasi Passionis pada tahun 1768 dan kemudian mengikrarkan profesinya pada 24 September 1769.

Di bawah bimbingan spiritualitas Santo Paulus dari Salib, Vinsensius semakin memahami bahwa panggilan seorang imam bukanlah mencari kenyamanan pribadi.

Ia dipanggil untuk membawa manusia semakin dekat kepada Kristus.

Salib menjadi sekolah kehidupannya.

Dari Kristus yang tersalib ia belajar kasih. Dari Kristus yang menderita ia belajar pengorbanan. Dari Kristus yang menyerahkan hidup-Nya ia belajar bagaimana menjadi pelayan bagi sesama.

Baca juga: Santo Pasifikus, Pengaku Iman – 24 September

Santo Vinsensius Maria Strambi sebagai Pewarta Sengsara Kristus

Salah satu ciri utama kehidupan Santo Vinsensius Maria Strambi adalah semangatnya dalam pewartaan.

Ia dikenal sebagai salah satu misionaris Passionis yang penting pada zamannya. Ia mengadakan berbagai misi umat dan berkhotbah di banyak tempat di Italia.

Isi pewartaannya sangat dipengaruhi spiritualitas Passionis: Sengsara dan wafat Yesus Kristus.

Baginya, merenungkan sengsara Tuhan bukan berarti berhenti pada kesedihan. Sebaliknya, melalui salib umat diajak menemukan besarnya kasih Allah.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”
— Roma 5:8

Salib menunjukkan bahwa Allah tidak meninggalkan manusia dalam penderitaan.

Kristus memasuki penderitaan manusia dan mengubahnya menjadi jalan menuju kehidupan baru.

Karena itu, pewartaan Vinsensius bertujuan membawa umat kepada pertobatan, doa, kehidupan sakramental, dan kasih kepada sesama.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Kamis, 24 September 2026 Lukas 9:7-9

Penulis dan Pembimbing Rohani

Pelayanan Vinsensius tidak terbatas pada mimbar.

Ia juga menulis karya mengenai kehidupan rohani dan kehidupan para kudus. Salah satu bidang devosinya adalah Darah Mulia Kristus, yang dipandangnya dalam hubungan erat dengan misteri Sengsara Tuhan.

Ia juga menjadi pembimbing rohani bagi sejumlah tokoh yang kemudian dikenal dalam sejarah spiritualitas Katolik, termasuk Santo Gaspare del Bufalo dan Beata Anna Maria Taigi.

Vinsensius juga dikenal sebagai penulis biografi pertama Santo Paulus dari Salib. Dengan demikian, ia ikut berperan dalam mewariskan kehidupan dan spiritualitas pendiri Kongregasi Passionis kepada generasi-generasi berikutnya.

Diangkat Menjadi Uskup Macerata dan Tolentino

Tahun 1801 menjadi titik penting dalam kehidupan Vinsensius.

Ia dipilih menjadi Uskup Macerata dan Tolentino.

Penunjukan tersebut bukan sesuatu yang dicarinya. Catatan sejarah Passionis menyebutkan bahwa ketika penunjukannya diumumkan, Vinsensius bahkan berusaha meminta agar tanggung jawab tersebut tidak diberikan kepadanya.

Namun permohonannya tidak diterima.

Ia akhirnya menerima tugas itu sebagai kehendak Tuhan.

Vinsensius ditahbiskan menjadi uskup pada 26 Juli 1801 di Basilika Santo Yohanes dan Paulus di Roma. Dalam surat pastoral pertamanya, ia mengingatkan umat bahwa sebagai seorang Passionis ia akan terus mengajak mereka mengingat kasih Allah yang dinyatakan secara istimewa dalam Sengsara Yesus.

Menjadi uskup tidak membuatnya meninggalkan semangat hidup religius.

Ia tetap hidup sederhana.

Ia tetap berdoa.

Ia tetap menjalani semangat pertobatan.

Dan terutama, ia tetap memberikan perhatian besar kepada mereka yang paling membutuhkan.

Uskup yang Mencintai Orang Miskin

Salah satu sisi paling indah dari kehidupan Santo Vinsensius Maria Strambi adalah perhatiannya kepada kaum miskin.

Baginya, harta dan sumber daya yang dipercayakan kepada seorang uskup bukan terutama untuk kenyamanan pribadi, melainkan untuk pelayanan.

Sumber Passionis mencatat ungkapan yang menggambarkan sikapnya terhadap orang miskin: ia memandang mereka seakan-akan sebagai pihak yang harus dilayaninya dan dirinya sebagai pengelola bagi mereka. Ia juga terus mengingatkan pentingnya mendengarkan jeritan orang miskin.

Pandangan tersebut sangat dekat dengan pesan Injil.

Yesus berkata:

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
— Matius 25:40

Iman kepada Kristus tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama.

Doa harus menghasilkan belas kasih.

Ekaristi harus mendorong pelayanan.

Dan permenungan tentang salib harus membuat hati seorang Kristen semakin peka terhadap penderitaan orang lain.

Perhatian terhadap Pendidikan dan Pembinaan

Pelayanan pastoral Vinsensius juga mencakup pendidikan.

Penelitian terhadap dokumen-dokumen masa episkopatnya menunjukkan perhatiannya terhadap pendidikan Kristiani kaum muda, sekolah, dan pembinaan masyarakat. Ia juga memberikan perhatian terhadap orang miskin, sakit, dan menderita.

Ia memahami bahwa pembaruan Gereja tidak cukup dilakukan melalui khotbah.

Generasi muda perlu dibentuk.

Para imam perlu dibina.

Umat perlu mendapatkan pendidikan iman yang kokoh.

Dengan cara itulah kehidupan Kristiani dapat berkembang secara berkelanjutan.

Santo Vinsensius Maria Strambi Menghadapi Napoleon

Masa pelayanan Vinsensius sebagai uskup berlangsung ketika Eropa mengalami pergolakan politik yang besar.

Kekuasaan Napoleon membawa tekanan terhadap Gereja Katolik. Di sejumlah tempat, otoritas gerejawi dipaksa memberikan bentuk kesetiaan politik yang bertentangan dengan kewajiban mereka terhadap Gereja dan Paus.

Vinsensius menghadapi situasi tersebut dengan keberanian.

Ketika diminta memberikan sumpah yang tidak dapat diterimanya dalam hati nurani sebagai seorang uskup, ia memilih menolak.

Akibatnya berat.

Ia harus meninggalkan keuskupannya dan menjalani pengasingan.

Menurut catatan Passionis, masa pengasingannya berlangsung hampir enam tahun, termasuk di Novara dan Milan.

Keputusan tersebut memperlihatkan sesuatu yang sangat penting mengenai kekudusan.

Kekudusan bukan hanya berdoa ketika keadaan tenang.

Kekudusan juga berarti tetap setia ketika iman mempunyai harga yang harus dibayar.

Vinsensius dapat saja memilih jalan yang lebih mudah. Namun ia memahami bahwa hati nurani tidak boleh diperdagangkan demi keamanan pribadi.

Kembali kepada Umatnya

Setelah kekuasaan Napoleon runtuh, Vinsensius dapat kembali ke keuskupannya.

Ia kembali ke Macerata pada tahun 1814 setelah masa pengasingannya.

Masa penderitaan tidak membuatnya menjadi pahit.

Sebaliknya, ia kembali menjalankan pelayanan pastoral dengan semangat.

Dalam masa berikutnya, ia bahkan berani menghadapi ancaman terhadap kota dan masyarakatnya. Keberaniannya membela penduduk membuatnya dikenang sebagai seorang “bapa kota”.

Seorang uskup, dalam pandangannya, tidak boleh meninggalkan umat ketika bahaya datang.

Gembala harus berada bersama kawanan.

Semangat tersebut mengingatkan kita kepada perkataan Yesus mengenai Gembala yang Baik:

“Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.”
— Yohanes 10:11

Tahun-Tahun Terakhir Bersama Paus Leo XII

Setelah puluhan tahun menjalani pelayanan yang berat, kesehatan Vinsensius semakin menurun.

Ia beberapa kali meminta izin untuk mengundurkan diri dari kepemimpinan keuskupan.

Pada 1823, Paus Leo XII akhirnya menerima pengunduran dirinya. Namun Paus tidak membiarkannya pergi jauh.

Leo XII menginginkan Vinsensius tetap berada dekat dengannya sebagai pembimbing rohani, penasihat, dan bapa pengakuan.

Karena itu, masa terakhir kehidupan Vinsensius dijalani di Roma.

Ia tinggal dekat Paus di Istana Quirinal.

Di sanalah terjadi peristiwa yang kemudian sangat terkenal dalam riwayat hidupnya.

Mempersembahkan Hidup bagi Paus

Ketika Paus Leo XII mengalami sakit serius, Vinsensius berdoa dengan penuh iman.

Tradisi biografis Passionis menyatakan bahwa Vinsensius mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan demi Paus yang sedang sakit berat. Tidak lama kemudian keadaan Paus membaik, sedangkan kesehatan Vinsensius memburuk.

Peristiwa ini sebaiknya dipahami dalam semangat persembahan diri Kristiani, bukan sebagai suatu pertukaran mekanis antara satu kehidupan dengan kehidupan lain.

Yang terutama terlihat adalah kasih seorang gembala yang bersedia mempersembahkan penderitaannya kepada Tuhan demi orang lain.

Seluruh kehidupannya memang telah bergerak ke arah tersebut.

Ia mewartakan Kristus yang tersalib.

Ia merenungkan pengorbanan Kristus.

Ia mengajarkan kasih yang rela memberikan diri.

Pada akhir kehidupannya, spiritualitas tersebut menjadi persembahan pribadinya sendiri.

Wafat Santo Vinsensius Maria Strambi

Santo Vinsensius Maria Strambi meninggal dunia di Roma pada 1 Januari 1824, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-79.

Ia telah menjalani sekitar 22 tahun pelayanan sebagai Uskup Macerata dan Tolentino.

Jenazah dan reliknya kemudian dihormati di Macerata, kota yang pernah dilayaninya dengan begitu besar kasih dan pengorbanan.

Gereja kemudian mengakui kekudusan hidupnya.

Santo Vinsensius Maria Strambi dikanonisasi oleh Paus Pius XII pada 11 Juni 1950.

Kini namanya dikenang terutama dalam keluarga besar Passionis, dengan peringatan liturgis pada 24 September.

Teladan Santo Vinsensius Maria Strambi bagi Umat Katolik

Kisah Santo Vinsensius bukan sekadar catatan sejarah dari Italia dua abad silam.

Hidupnya masih membawa pesan yang sangat relevan bagi umat Katolik zaman sekarang.

1. Menempatkan Kristus yang Tersalib di Pusat Kehidupan

Vinsensius menghabiskan hidupnya untuk mewartakan Sengsara Kristus.

Salib mengajarkan bahwa kasih sejati tidak selalu mudah.

Ada pengorbanan.

Ada kesetiaan.

Ada kesediaan mengampuni.

Ada keberanian untuk tetap percaya ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Ketika kita menghadapi penderitaan, Santo Vinsensius mengajak kita untuk memandang Kristus yang tersalib dan berkata:

Tuhan, Engkau telah terlebih dahulu berjalan melalui jalan penderitaan ini. Tinggallah bersamaku.

2. Mendengarkan Jeritan Orang Miskin

Iman tidak boleh membuat kita hanya sibuk dengan diri sendiri.

Di sekitar kita mungkin ada orang yang kesulitan membeli makanan, orang tua yang kesepian, keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi, orang sakit yang membutuhkan perhatian, atau seseorang yang hanya membutuhkan teman untuk mendengarkan.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan mereka.

Tetapi kita selalu dapat melakukan sesuatu.

Santo Vinsensius mengajarkan bahwa orang miskin bukan gangguan bagi kehidupan rohani kita.

Mereka justru menjadi tempat kita belajar mencintai Kristus secara nyata.

3. Berani Mempertahankan Hati Nurani

Ketika mendapat tekanan politik, Vinsensius memilih pengasingan daripada melakukan sesuatu yang diyakininya bertentangan dengan kewajiban iman dan hati nuraninya.

Kita mungkin tidak menghadapi Napoleon.

Namun tekanan untuk berkompromi dengan kebenaran tetap ada.

Di tempat kerja.

Dalam bisnis.

Dalam pergaulan.

Di media sosial.

Bahkan di dalam keluarga.

Kita membutuhkan keberanian untuk berkata tidak ketika sesuatu jelas bertentangan dengan iman dan moral Kristiani.

4. Kekuasaan Adalah Kesempatan untuk Melayani

Vinsensius menjadi uskup, tetapi jabatan tidak mengubah dirinya menjadi orang yang mencari kemewahan.

Semakin besar tanggung jawabnya, semakin besar pula panggilannya untuk melayani.

Pesan ini berlaku bagi siapa pun yang memiliki tanggung jawab: orang tua, guru, pemimpin komunitas, pengusaha, pejabat, imam maupun kaum religius.

Dalam pandangan Kristiani, kewenangan bukan hak untuk dilayani.

Kewenangan adalah tanggung jawab untuk melayani.

Renungan Santo Santa 24 September

Kehidupan modern sering mengajarkan bahwa keberhasilan berarti memiliki lebih banyak: lebih banyak uang, pengaruh, kenyamanan, pengikut, atau pengakuan.

Kehidupan Santo Vinsensius Maria Strambi menunjukkan arah yang berbeda.

Semakin tinggi kedudukannya, semakin ia memberikan dirinya.

Ketika menjadi pengkhotbah, ia memberikan suaranya.

Ketika menjadi pembimbing rohani, ia memberikan waktunya.

Ketika menjadi uskup, ia memberikan tenaganya.

Ketika orang miskin datang, ia memberikan apa yang dimilikinya.

Ketika Gereja ditekan, ia memberikan kebebasannya dengan menerima pengasingan.

Dan menjelang akhir hidupnya, ia mempersembahkan hidupnya sendiri kepada Tuhan.

Di situlah kita menemukan paradoks Injil.

Kita tidak menjadi kaya di hadapan Allah karena banyaknya yang kita kumpulkan, tetapi karena banyaknya kasih yang kita berikan.

Hari ini kita dapat bertanya kepada diri sendiri:

Apakah iman saya membuat saya semakin murah hati?

Apakah saya peka terhadap penderitaan orang di sekitar saya?

Apakah saya berani mempertahankan kebenaran ketika ada tekanan?

Apakah saya sungguh menempatkan Kristus di pusat kehidupan?

Kita tidak harus menjadi uskup seperti Santo Vinsensius.

Tetapi kita semua dapat belajar menjadi gembala bagi orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita.

Orang tua dapat menjadi gembala bagi anak-anaknya.

Seorang kakak dapat menjaga adiknya.

Seorang sahabat dapat menguatkan sahabatnya.

Seorang pemimpin dapat memperjuangkan kesejahteraan orang yang dipimpinnya.

Seorang umat dapat memperhatikan tetangganya yang sedang mengalami kesulitan.

Kekudusan dimulai dari kasih yang dilakukan hari ini.

Doa melalui Perantaraan Santo Vinsensius Maria Strambi

Ya Allah, Bapa yang Mahakasih,

Engkau telah memanggil Santo Vinsensius Maria Strambi
untuk melayani Gereja-Mu sebagai imam, pewarta, dan uskup.

Engkau menyalakan dalam hatinya
cinta yang mendalam kepada Yesus Kristus yang tersalib
serta belas kasih kepada orang miskin, sakit, dan menderita.

Bantulah kami mengikuti teladannya.

Ajarlah kami untuk tetap setia kepada-Mu
ketika kehidupan terasa berat.

Berikanlah kepada kami keberanian
untuk mempertahankan kebenaran,
kerendahan hati untuk melayani,
dan hati yang peka terhadap penderitaan sesama.

Melalui perantaraan Santo Vinsensius Maria Strambi,
teguhkanlah iman kami
agar kami semakin mengenal kasih Kristus
dan berani mewartakan Injil melalui kehidupan kami.

Santo Vinsensius Maria Strambi,
doakanlah kami
agar tetap setia mengikuti Kristus
sampai akhir kehidupan kami.

Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.

Amin.

Penutup

Santo Vinsensius Maria Strambi menunjukkan kepada kita bagaimana cinta kepada Kristus yang tersalib dapat mengubah seluruh kehidupan seseorang.

Ia adalah imam yang tekun, pewarta yang bersemangat, religius Passionis yang setia, uskup yang berani, pembimbing rohani yang bijaksana, serta sahabat bagi orang miskin dan menderita.

Ketika kekuasaan politik menekan Gereja, ia memilih kesetiaan.

Ketika umat membutuhkan perlindungan, ia berdiri bersama mereka.

Ketika orang miskin membutuhkan pertolongan, ia membuka hati.

Dan ketika hidupnya mendekati akhir, ia tetap menjadikannya persembahan kepada Tuhan.

Semoga peringatan Santo Santa 24 September ini tidak berhenti sebagai pengetahuan mengenai kehidupan seorang kudus. Semoga teladan Santo Vinsensius Maria Strambi mendorong kita untuk semakin mencintai Kristus, setia kepada Gereja, peduli kepada mereka yang menderita, dan berani menjalani iman dalam kehidupan sehari-hari.

Santo Vinsensius Maria Strambi, doakanlah kami.

Jika kisah Santo Vinsensius Maria Strambi ini menguatkan iman Anda, bagikan artikel ini kepada keluarga, sahabat, dan komunitas Anda. Mungkin melalui satu kali berbagi, kisah seorang kudus dapat menjadi jalan Tuhan untuk menguatkan seseorang yang sedang membutuhkan pengharapan.


Demikianlah Santo Vinsensius Maria Strambi, Uskup – 24 September, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url