Santo Yohanes XXIII, Santo Katolik 11 Oktober

Santo Yohanes XXIII, Paus yang Baik dan pembuka Konsili Vatikan II, diperingati Gereja Katolik setiap 11 Oktober

Santo Yohanes XXIII, Paus yang Baik dan Pembawa Semangat Pembaruan Gereja

Setiap tanggal 11 Oktober, Gereja Katolik memperingati Santo Yohanes XXIII, seorang Paus yang dikenang karena kerendahan hati, keramahan, semangat perdamaian, dan keberaniannya membuka jalan bagi pembaruan Gereja melalui Konsili Vatikan II. Ia sering mendapat julukan Paus yang Baik karena sikapnya yang hangat, sederhana, dan dekat dengan umat.

Santo Yohanes XXIII menunjukkan bahwa kekudusan tidak selalu tampak melalui tindakan luar biasa di mata dunia. Kekudusan dapat tumbuh melalui kesederhanaan, kegembiraan, kesetiaan pada tugas sehari-hari, keterbukaan terhadap sesama, serta keberanian mendengarkan tuntunan Roh Kudus. Nama aslinya adalah Angelo Giuseppe Roncalli. Berasal dari keluarga sederhana, ia kemudian dipercaya menjalankan berbagai tugas diplomatik Gereja sebelum akhirnya terpilih menjadi Paus. Masa kepausannya memang relatif singkat, tetapi pengaruhnya terhadap perjalanan Gereja Katolik modern sangat besar.

Peringatan Santo Yohanes XXIII tanggal 11 Oktober mengajak umat Katolik untuk belajar menjadi pribadi yang membawa damai, membuka hati terhadap sesama, dan tetap berpegang teguh pada Kristus di tengah perubahan zaman.

Baca juga Santo Santa Bulan Oktober: Daftar Orang Kudus Katolik

Siapakah Santo Yohanes XXIII?

Santo Yohanes XXIII adalah Paus Gereja Katolik yang memimpin Gereja dari tahun 1958 hingga wafatnya pada tahun 1963. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Gereja abad ke-20, terutama karena keputusannya untuk menyelenggarakan Konsili Vatikan II.

Ia lahir dengan nama Angelo Giuseppe Roncalli pada 25 November 1881 di Sotto il Monte, dekat Bergamo, Italia. Ia berasal dari keluarga petani yang sederhana dan besar. Kehidupan keluarganya dipenuhi suasana iman Katolik yang kuat. Kesederhanaan keluarga tersebut meninggalkan pengaruh mendalam dalam kepribadian Angelo. Bahkan setelah menduduki berbagai jabatan penting dalam Gereja, ia tetap dikenal sebagai pribadi yang sederhana, mudah bergaul, dan tidak berjarak dengan orang lain.

Angelo Roncalli akhirnya terpilih menjadi Paus pada 28 Oktober 1958 dan memilih nama Yohanes XXIII. Tidak banyak orang pada waktu itu menduga bahwa Paus yang telah berusia lanjut tersebut akan membawa perubahan besar bagi Gereja. Namun justru melalui dirinya, Gereja memasuki salah satu periode penting dalam sejarah modernnya.

Baca juga: Kalender Liturgi Katolik Oktober 2026 Lengkap

Masa Kecil Angelo Giuseppe Roncalli

Lahir dari Keluarga Sederhana

Angelo Giuseppe Roncalli lahir sebagai salah satu anak dalam keluarga besar Giovanni Battista Roncalli dan Marianna Giulia Mazzolla. Keluarganya hidup sederhana dengan mengandalkan pertanian. Lingkungan keluarga memberikan dasar spiritual yang sangat penting bagi Angelo. Kehidupan doa, kerja keras, kesederhanaan, dan kebersamaan menjadi bagian dari kesehariannya.

Pengalaman tersebut membantu membentuk karakter yang kemudian sangat menonjol dalam kehidupannya sebagai imam, uskup, kardinal, dan Paus. Meskipun memperoleh kedudukan tinggi dalam Gereja, Santo Yohanes XXIII tidak melupakan asal-usulnya. Kesederhanaannya bukan sekadar gaya hidup, tetapi menjadi bagian dari caranya memahami panggilan Kristiani sebagai pelayanan kepada Tuhan dan sesama.

Panggilan Menjadi Imam

Sejak muda, Angelo merasakan panggilan untuk melayani Tuhan sebagai imam. Ia memasuki seminari dan menjalani pendidikan untuk mempersiapkan diri menerima tahbisan. Ia kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1904.

Sebagai seorang imam muda, Angelo tidak hanya memperhatikan kehidupan rohani, tetapi juga memiliki ketertarikan besar terhadap sejarah Gereja, kehidupan sosial, dan pelayanan pastoral. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika ia kemudian dipercaya menjalankan berbagai tugas yang jauh lebih luas dalam Gereja.

Baca Juga: Daftar Nama Paus Katolik dari Pertama sampai Sekarang

Pelayanan Santo Yohanes XXIII Sebelum Menjadi Paus

Perjalanan Angelo Roncalli menuju Takhta Santo Petrus tidak berlangsung secara langsung. Sebelum menjadi Paus, ia menjalani berbagai tugas pelayanan yang membentuk cara pandangnya terhadap Gereja, masyarakat, hubungan antarbangsa, dan dunia yang sedang mengalami perubahan besar.

Pelayanan dalam Diplomasi Gereja

Angelo Roncalli dipercaya menjalankan pelayanan diplomatik Takhta Suci di beberapa wilayah. Ia pernah melayani di Bulgaria, Turki, Yunani, dan kemudian Prancis. Pengalaman hidup di tengah masyarakat dengan budaya, tradisi, agama, dan situasi politik yang berbeda memperluas cakrawala pemikirannya.

Dalam berbagai tugas tersebut, ia belajar bahwa dialog merupakan bagian penting dalam membangun hubungan antarmanusia. Dalam situasi yang sulit sekalipun, pendekatan manusiawi dan penuh penghormatan sering kali dapat membuka pintu yang tidak dapat dibuka melalui pertentangan. Pengalaman tersebut kelak sangat terlihat dalam gaya kepemimpinannya sebagai Paus.

Kepedulian terhadap Mereka yang Menderita

Masa pelayanan diplomatik Roncalli juga berlangsung ketika Eropa menghadapi berbagai konflik besar, termasuk Perang Dunia II. Dalam berbagai kesempatan ia berusaha membantu mereka yang berada dalam bahaya dan penderitaan. Pengalaman menyaksikan akibat peperangan semakin memperdalam perhatiannya terhadap martabat manusia dan perdamaian.

Bagi Roncalli, pelayanan Gereja tidak boleh berhenti pada kata-kata. Kasih kepada Tuhan harus diwujudkan melalui perhatian konkret kepada manusia, khususnya mereka yang menderita. Prinsip inilah yang terus terlihat ketika ia kemudian memimpin Gereja universal.

Baca juga: Santo Paulinus dari York, Santo 10 Oktober

Angelo Roncalli Menjadi Patriark Venesia

Pada tahun 1953, Angelo Roncalli diangkat menjadi Kardinal dan Patriark Venesia. Tugas pastoral di Venesia memberinya kesempatan kembali menjalani pelayanan yang lebih dekat dengan umat setelah bertahun-tahun berada dalam dunia diplomasi.

Sebagai gembala, ia dikenal ramah dan mudah ditemui. Ia berusaha mengenal kehidupan umat yang dipercayakan kepadanya. Baginya, seorang gembala tidak boleh hanya berada di balik meja atau di dalam gedung gereja. Gembala harus hadir di tengah umat, mendengarkan kegembiraan dan penderitaan mereka, serta menemani perjalanan iman mereka. Pandangan seperti inilah yang kemudian membuat banyak orang merasa dekat dengannya.

Baca juga: Santo Wilfridus, Uskup dan Pengaku Iman 12 Oktober

Terpilih Menjadi Paus Yohanes XXIII

Setelah wafatnya Paus Pius XII pada tahun 1958, para kardinal berkumpul dalam konklaf untuk memilih Paus baru. Pada 28 Oktober 1958, Kardinal Angelo Giuseppe Roncalli terpilih menjadi Paus dan memilih nama Yohanes XXIII.

Ketika terpilih, usianya sudah hampir 77 tahun. Karena faktor usia, sebagian orang pada masa itu memperkirakan bahwa kepausannya mungkin akan menjadi masa transisi. Kenyataannya berbeda. Dalam waktu yang relatif singkat, Paus Yohanes XXIII mengambil keputusan yang memberikan dampak sangat besar terhadap perjalanan Gereja Katolik. Salah satu keputusan terpenting itu adalah mengadakan Konsili Vatikan II.

Baca juga: Sejarah Para Paus Gereja Katolik dari Masa ke Masa

Santo Yohanes XXIII dan Konsili Vatikan II

Keputusan yang Mengejutkan Dunia

Pada 25 Januari 1959, Paus Yohanes XXIII mengumumkan niatnya untuk mengadakan sebuah konsili ekumenis. Pengumuman tersebut mengejutkan banyak pihak karena tidak banyak yang menduga bahwa Paus yang baru beberapa bulan terpilih akan mengambil langkah sebesar itu.

Konsili tersebut kemudian dikenal sebagai Konsili Vatikan II dan secara resmi dibuka pada 11 Oktober 1962. Tanggal pembukaan inilah yang memiliki hubungan khusus dengan tanggal peringatan liturgis Santo Yohanes XXIII. Konsili Vatikan II kemudian menjadi salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Gereja Katolik abad ke-20.

Semangat Aggiornamento

Salah satu istilah yang sering dikaitkan dengan visi Yohanes XXIII adalah aggiornamento, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai usaha pembaruan agar Gereja mampu menjalankan misinya dan menyampaikan Injil kepada manusia pada zamannya.

Pembaruan bukan berarti meninggalkan iman atau menyesuaikan kebenaran iman dengan setiap perubahan dunia. Sebaliknya, pembaruan dimaksudkan agar kekayaan iman yang sama dapat disampaikan, dipahami, dan dihidupi oleh manusia dalam kondisi zaman yang terus berubah. Yohanes XXIII memahami bahwa Gereja harus tetap setia kepada Injil sekaligus mampu membaca tanda-tanda zaman.

Membuka Jendela Gereja

Gambaran yang sering digunakan untuk menjelaskan semangat Yohanes XXIII adalah membuka jendela agar udara segar masuk. Gambaran tersebut mencerminkan keinginannya agar Gereja semakin mampu berdialog dengan dunia dan memahami berbagai tantangan yang dihadapi manusia modern.

Dialog bukan berarti kehilangan identitas. Bagi Gereja, dialog justru harus berakar pada keyakinan kepada Kristus sekaligus dilaksanakan dengan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Semangat tersebut menjadi salah satu warisan penting Santo Yohanes XXIII bagi kehidupan Gereja hingga sekarang.

Baca juga: Bacaan Injil Hari Ini Minggu, 11 Oktober 2026 Matius 22:1-14

Santo Yohanes XXIII sebagai Paus Perdamaian

Selain Konsili Vatikan II, Santo Yohanes XXIII juga dikenal karena perhatian besarnya terhadap perdamaian dunia. Dunia pada masa kepausannya berada dalam ketegangan Perang Dingin. Ancaman konflik nuklir menjadi ketakutan nyata bagi umat manusia. Dalam situasi tersebut, Yohanes XXIII berusaha menyerukan dialog dan perdamaian.

Salah satu warisan pentingnya adalah ensiklik Pacem in Terris, yang berarti Damai di Bumi. Dokumen tersebut menegaskan pentingnya martabat manusia, hak dan kewajiban, keadilan, kebenaran, kebebasan, serta kerja sama untuk menciptakan perdamaian. Pesannya tetap relevan sampai sekarang. Di tengah berbagai konflik, polarisasi, kekerasan, dan pertentangan, teladan Santo Yohanes XXIII mengingatkan umat bahwa orang Kristiani dipanggil menjadi pembawa damai.

Mengapa Yohanes XXIII Disebut “Paus yang Baik”?

Salah satu julukan yang sangat melekat pada Santo Yohanes XXIII adalah “Paus yang Baik” atau Il Papa Buono. Julukan tersebut lahir dari kesan mendalam masyarakat terhadap kepribadiannya. Ia dikenal hangat, humoris, sederhana, dan mudah berkomunikasi dengan orang lain.

Kebaikannya bukanlah kelemahan. Sebaliknya, keramahan itu muncul dari keyakinannya bahwa setiap manusia memiliki martabat dan layak diperlakukan dengan kasih. Ia mampu menjalankan tanggung jawab besar tanpa kehilangan sisi manusiawinya. Dalam kehidupan Kristiani, hal tersebut menjadi pelajaran penting. Seseorang dapat memiliki tanggung jawab besar, jabatan tinggi, atau pengetahuan luas, tetapi tetap dipanggil untuk rendah hati dan melayani.

Kehidupan Doa Santo Yohanes XXIII

Di balik aktivitasnya yang sangat padat, Yohanes XXIII adalah seorang yang memiliki kehidupan rohani mendalam. Salah satu sumber penting untuk mengenal kehidupan batinnya adalah catatan rohaninya yang kemudian dikenal melalui Journal of a Soul. Catatan tersebut memperlihatkan perjalanan panjang seorang manusia yang terus berusaha bertumbuh dalam kekudusan.

Kekudusan bagi Yohanes XXIII bukanlah pencapaian instan. Kekudusan dibangun melalui kesetiaan kecil setiap hari: doa, pemeriksaan batin, kesabaran, ketaatan, pelayanan, kerendahan hati, dan penyerahan diri kepada kehendak Tuhan.

Kekudusan dalam Kesederhanaan

Teladan Santo Yohanes XXIII menunjukkan bahwa kita tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk menjadi kudus. Kita dapat memulainya melalui kehidupan sehari-hari. Mengampuni orang lain, berbicara dengan lembut, membantu mereka yang membutuhkan, menjalankan pekerjaan dengan jujur, berdoa dengan setia, dan memperlakukan sesama dengan hormat merupakan jalan konkret menuju kekudusan.

Kesederhanaan semacam itulah yang membuat kehidupan Yohanes XXIII begitu dekat dengan umat. Ia menunjukkan bahwa kekudusan bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia sehari-hari, tetapi dapat tumbuh melalui kesetiaan kepada Tuhan dalam perkara-perkara sederhana.

Wafatnya Paus Yohanes XXIII

Kesehatan Paus Yohanes XXIII menurun ketika Konsili Vatikan II masih berlangsung. Ia menderita penyakit serius dan akhirnya wafat pada 3 Juni 1963. Wafatnya membawa dukacita bagi banyak orang, bukan hanya umat Katolik. Masyarakat dunia telah mengenalnya sebagai seorang pemimpin yang berbicara mengenai persaudaraan dan perdamaian pada masa yang penuh ketegangan.

Meskipun tidak sempat menyaksikan berakhirnya Konsili Vatikan II, keputusan Yohanes XXIII untuk memulai konsili tersebut menjadi warisan yang sangat menentukan. Konsili kemudian dilanjutkan di bawah kepemimpinan Paus Paulus VI dan ditutup pada tahun 1965.

Kanonisasi Santo Yohanes XXIII

Perjalanan pengakuan kekudusan Yohanes XXIII berlangsung setelah wafatnya. Ia dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2000. Kemudian pada 27 April 2014, Paus Fransiskus mengkanonisasi Yohanes XXIII bersama Paus Yohanes Paulus II.

Peristiwa tersebut menjadi momen istimewa bagi Gereja Katolik karena dua Paus yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan Gereja modern dinyatakan sebagai santo pada hari yang sama. Sejak itu umat Katolik di seluruh dunia dapat secara khusus menghormatinya sebagai Santo Yohanes XXIII.

Mengapa Santo Yohanes XXIII Diperingati 11 Oktober?

Tidak seperti banyak santo yang diperingati pada tanggal wafatnya, peringatan liturgis Santo Yohanes XXIII dirayakan pada 11 Oktober. Pemilihan tanggal ini berkaitan dengan salah satu peristiwa terbesar dalam kepausannya, yaitu pembukaan Konsili Vatikan II pada 11 Oktober 1962.

Tanggal tersebut melambangkan visi pastoral dan semangat pembaruan yang menjadi bagian penting dari warisan Yohanes XXIII. Karena itu, peringatan Santo Yohanes XXIII tanggal 11 Oktober bukan hanya kesempatan mengenang seorang Paus yang baik hati, tetapi juga kesempatan merenungkan panggilan Gereja untuk terus membawa Injil kepada dunia.

Teladan Santo Yohanes XXIII bagi Umat Katolik

Menjadi Pembawa Damai

Santo Yohanes XXIII hidup pada masa ketika dunia berada dalam ketegangan politik yang sangat tinggi. Namun, ia memilih berbicara mengenai perdamaian. Umat Katolik juga dipanggil melakukan hal yang sama dalam lingkungan masing-masing.

Menjadi pembawa damai dapat dimulai dari keluarga, tempat kerja, komunitas, lingkungan, dan bahkan media sosial. Kita hendaknya tidak menambah kebencian ketika terjadi pertentangan dan tidak mudah menyebarkan perkataan yang melukai orang lain. Sebaliknya, orang Kristiani dipanggil menjadi pembawa rekonsiliasi.

Berani Mendengarkan

Yohanes XXIII menunjukkan pentingnya mendengarkan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak konflik muncul bukan hanya karena perbedaan pendapat, tetapi karena orang tidak lagi mau mendengarkan satu sama lain.

Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui. Mendengarkan berarti menghormati orang lain sebagai manusia dan berusaha memahami apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Sikap demikian dapat membuka jalan menuju dialog dan perdamaian.

Tetap Setia di Tengah Perubahan

Santo Yohanes XXIII menunjukkan bahwa kesetiaan terhadap iman tidak berarti menolak setiap perubahan. Gereja dipanggil menjaga kebenaran iman sekaligus mencari cara terbaik untuk menyampaikannya kepada setiap generasi.

Hal yang sama berlaku bagi umat Katolik. Perkembangan teknologi, perubahan budaya, dan berbagai tantangan zaman harus dihadapi dengan kebijaksanaan. Iman kepada Kristus tetap menjadi dasar, sementara cara kita memberikan kesaksian dapat terus berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Hidup dengan Sederhana

Meskipun menjadi Paus, Yohanes XXIII tidak kehilangan kesederhanaannya. Teladan ini sangat relevan pada zaman ketika nilai seseorang sering diukur berdasarkan kekayaan, jabatan, popularitas, atau penampilan.

Injil mengajarkan ukuran yang berbeda. Kebesaran sejati terlihat dalam kemampuan seseorang untuk mengasihi dan melayani. Santo Yohanes XXIII memperlihatkan bahwa kerendahan hati tidak mengurangi kewibawaan seseorang, melainkan dapat membuat pelayanan semakin bermakna.

Memiliki Humor dan Sukacita

Santo Yohanes XXIII juga dikenal memiliki selera humor yang baik. Sukacita menjadi bagian dari caranya menjalani kehidupan dan pelayanan. Iman Kristiani bukan panggilan menuju kehidupan yang suram. Orang beriman dipanggil memiliki pengharapan karena percaya bahwa Tuhan tetap berkarya.

Sukacita tidak berarti tidak memiliki masalah. Sukacita Kristiani lahir dari keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai perjalanan hidup kita, termasuk ketika menghadapi ketidakpastian dan kesulitan.

Relevansi Santo Yohanes XXIII bagi Gereja Masa Kini

Warisan Santo Yohanes XXIII tetap terasa dalam kehidupan Gereja saat ini. Semangat dialog, perhatian terhadap perdamaian, penghormatan terhadap martabat manusia, serta usaha menyampaikan Injil secara relevan kepada dunia modern merupakan bagian dari perjalanan Gereja yang sangat dipengaruhi oleh Konsili Vatikan II.

Namun, warisan terbesar Yohanes XXIII mungkin bukan sekadar keputusan administratif atau peristiwa sejarah. Warisan itu juga terletak pada caranya memandang dunia dengan harapan. Ia percaya bahwa Tuhan tetap bekerja di tengah sejarah manusia. Karena itu, umat Kristiani tidak seharusnya hanya melihat dunia dengan ketakutan. Kita dipanggil membaca tanda-tanda zaman dengan iman dan membawa terang Kristus ke tengah kehidupan manusia.

Renungan Santo Yohanes XXIII 11 Oktober

Peringatan Santo Yohanes XXIII mengundang kita untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiran kita membawa damai atau justru menambah pertentangan? Kita hidup dalam dunia yang memungkinkan seseorang menyampaikan pendapat dalam hitungan detik. Media sosial membuat informasi menyebar dengan sangat cepat, tetapi kecepatan komunikasi tidak selalu membuat manusia semakin memahami satu sama lain.

Sering kali justru terjadi sebaliknya. Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan, kritik berubah menjadi penghinaan, dan perdebatan berubah menjadi serangan pribadi. Dalam situasi seperti ini, teladan Santo Yohanes XXIII menjadi sangat relevan. Ia menunjukkan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Kita dapat memiliki keyakinan yang kuat tanpa membenci orang yang berbeda dengan kita. Kita dapat mempertahankan kebenaran tanpa kehilangan kasih.

Kristus sendiri mengajarkan kepada para murid-Nya untuk menjadi pembawa damai. Maka, memperingati Santo Yohanes XXIII berarti menerima kembali panggilan tersebut. Kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana: berdamai dengan anggota keluarga, berhenti menyimpan dendam, tidak menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, menghindari perkataan yang menyakiti, dan tidak mudah menghakimi orang lain.

Dunia membutuhkan orang-orang yang berani membawa damai. Kedamaian besar sering kali dimulai dari keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang memilih mengampuni daripada membalas, mendengarkan daripada langsung menghakimi, dan membangun daripada merusak, di sanalah benih perdamaian mulai tumbuh.

Doa melalui Perantaraan Santo Yohanes XXIII

Ya Allah yang penuh kasih, kami bersyukur kepada-Mu atas teladan hidup Santo Yohanes XXIII, gembala yang sederhana, penuh sukacita, dan memiliki hati yang terbuka bagi sesama.

Melalui perantaraannya, ajarilah kami menjadi pembawa damai di tengah keluarga, masyarakat, Gereja, dan dunia. Berikanlah kepada kami hati yang rendah hati, keberanian untuk mendengarkan, kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan, serta kesetiaan untuk mengikuti Yesus Kristus.

Semoga kami mampu melihat sesama dengan kasih dan belas kasih-Mu. Bimbinglah kami agar melalui perkataan dan tindakan sehari-hari, kami dapat menjadi alat perdamaian dan menghadirkan kebaikan-Mu kepada orang-orang di sekitar kami.

Santo Yohanes XXIII, doakanlah kami. Amin.

Penutup

Santo Yohanes XXIII yang diperingati setiap 11 Oktober merupakan salah satu tokoh besar Gereja Katolik abad ke-20. Terlahir sebagai Angelo Giuseppe Roncalli dari keluarga sederhana, ia menjalani perjalanan panjang sebagai imam, diplomat, uskup, kardinal, hingga akhirnya menjadi Paus. Keputusannya membuka Konsili Vatikan II menjadi salah satu warisan terpenting dalam sejarah Gereja modern.

Namun, kehidupan Santo Yohanes XXIII juga meninggalkan pesan yang jauh lebih personal bagi setiap umat. Ia menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi besar tanpa kehilangan kerendahan hati, memiliki keyakinan teguh tanpa menjadi kasar, serta menghadapi perubahan tanpa kehilangan iman. Ia memperlihatkan bahwa kebaikan, keramahan, kesabaran, dan kesediaan untuk berdialog dapat menjadi kekuatan besar dalam kehidupan manusia.

Semoga pada peringatan Santo Yohanes XXIII tanggal 11 Oktober, kita semakin terdorong untuk menjadi pribadi yang membawa damai, memiliki hati terbuka, setia kepada Kristus, dan menghadirkan kasih Tuhan melalui kehidupan sehari-hari.

Santo Yohanes XXIII, doakanlah kami.


Demikianlah Santo Yohanes XXIII, Santo Katolik 11 Oktober, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url