Gereja yang Apostolik: Arti dan Dasar Iman Katolik
Gereja yang Apostolik: Makna, Dasar Iman, dan Perutusannya
Dalam Syahadat Nicea-Konstantinopel, umat Katolik mengakui: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.” Empat sifat Gereja tersebut bukan sekadar gelar kehormatan, melainkan mengungkapkan identitas Gereja yang berasal dari karya keselamatan Allah. Salah satu sifat yang sangat penting untuk memahami kesinambungan Gereja sepanjang sejarah adalah Gereja yang Apostolik.
Gereja disebut apostolik karena dibangun di atas dasar para rasul, memelihara iman yang mereka terima dari Yesus Kristus, dan terus menjalankan perutusan yang dipercayakan Kristus kepada mereka. Para rasul bukan sekadar tokoh pada masa lalu. Kesaksian, pengajaran, dan perutusan mereka menjadi dasar kehidupan Gereja sampai sekarang.
Sifat apostolik juga menunjukkan adanya kesinambungan antara komunitas murid yang hidup bersama Kristus pada abad pertama dan Gereja yang hadir di dunia sekarang. Kesinambungan itu tampak dalam pewartaan Injil, kehidupan sakramental, ajaran iman, pelayanan para uskup dalam persekutuan Gereja, serta tugas seluruh umat beriman untuk memberikan kesaksian tentang Kristus.
Karena itu, memahami arti Gereja yang Apostolik membantu umat Katolik melihat bahwa iman Kristen bukanlah sesuatu yang diciptakan ulang oleh setiap generasi. Gereja menerima iman dari Kristus melalui para rasul, menjaganya dengan setia, menghayatinya dalam setiap zaman, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Baca Juga: Sejarah Gereja Katolik dari Awal hingga Modern
Apa Arti Gereja yang Apostolik?
Kata “apostolik” berasal dari kata Yunani apostolos, yang berarti seseorang yang diutus atau utusan. Dalam Perjanjian Baru, istilah ini terutama berkaitan dengan para rasul yang dipilih dan diutus oleh Yesus Kristus untuk menjadi saksi-Nya serta mewartakan Injil.
Yesus tidak hanya mengumpulkan sejumlah orang untuk menjadi pendengar ajaran-Nya. Ia memilih para murid, membentuk mereka, memperlihatkan karya-karya-Nya kepada mereka, menjelaskan Kerajaan Allah, dan akhirnya mengutus mereka untuk meneruskan misi-Nya.
Injil Matius mencatat amanat Kristus kepada para murid untuk pergi dan menjadikan segala bangsa murid-Nya, membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, serta mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan-Nya (bdk. Mat. 28:19–20).
Perintah ini menunjukkan bahwa kehidupan para rasul sejak awal mempunyai sifat misioner. Mereka menerima sesuatu dari Kristus untuk diteruskan kepada orang lain.
Ketika Gereja disebut Gereja yang Apostolik, hal itu berarti bahwa Gereja tetap terhubung dengan iman, kesaksian, pengajaran, dan perutusan para rasul.
Baca Juga: Gereja Katolik yang Satu: Arti dan Dasar Imannya
Tiga Makna Utama Gereja yang Apostolik
Katekismus Gereja Katolik menjelaskan sifat apostolik Gereja dalam tiga dimensi yang saling berkaitan. Pertama, Gereja tetap dibangun di atas dasar para rasul, yaitu para saksi yang dipilih dan diutus oleh Kristus sendiri.
Kedua, dengan bantuan Roh Kudus yang tinggal di dalamnya, Gereja menjaga dan meneruskan ajaran, warisan iman, serta perkataan yang diterima melalui para rasul.
Ketiga, Gereja terus diajar, dikuduskan, dan dibimbing melalui para penerus para rasul dalam tugas pastoral mereka, yaitu para uskup, dalam kesatuan dengan penerus Santo Petrus.
Dengan demikian, sifat apostolik tidak dapat dipersempit hanya menjadi persoalan sejarah. Apostolisitas mencakup asal-usul Gereja, isi iman yang diwariskan, kesinambungan pelayanan gerejawi, dan perutusan Gereja di dunia.
Baca Juga: Gereja yang Katolik: Arti dan Maknanya
Yesus Kristus Adalah Dasar Utama Gereja
Menyebut Gereja dibangun di atas para rasul tidak berarti bahwa para rasul menggantikan kedudukan Kristus. Yesus Kristus tetap menjadi dasar utama, kepala, dan pusat Gereja.
Para rasul memiliki peranan karena mereka dipilih dan diutus oleh Kristus. Wibawa kerasulan mereka tidak berasal dari diri sendiri, tetapi dari Dia yang mengutus mereka.
Santo Paulus menjelaskan bahwa umat beriman dibangun “di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (bdk. Ef. 2:20). Gambaran tersebut menunjukkan hubungan yang jelas antara Kristus dan para rasul.
Kristus adalah batu penjuru. Para rasul menjadi dasar karena melalui kesaksian merekalah Injil tentang Kristus diteruskan kepada Gereja.
Karena itu, Gereja yang benar-benar apostolik harus selalu berpusat pada Kristus. Kesetiaan kepada para rasul pada akhirnya merupakan kesetiaan kepada Kristus yang memilih dan mengutus mereka.
Baca Juga: Mengenal Kedua Belas Murid Yesus dan Kisah Mereka
Yesus Memilih Dua Belas Rasul
Salah satu tindakan penting dalam pelayanan publik Yesus adalah pemilihan Dua Belas Rasul. Angka dua belas memiliki makna yang kuat dalam sejarah keselamatan karena mengingatkan pada dua belas suku Israel.
Dengan memilih Dua Belas, Yesus menunjukkan pembentukan umat Allah yang diperbarui dalam diri-Nya.
Injil mencatat nama-nama mereka, antara lain Simon yang disebut Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Simon orang Zelot, Yudas atau Tadeus, dan Yudas Iskariot yang kemudian mengkhianati Yesus.
Setelah kejatuhan Yudas Iskariot, komunitas para murid memilih Matias untuk mengambil tempat dalam pelayanan kerasulan itu (bdk. Kis. 1:15–26).
Hal tersebut memperlihatkan bahwa sejak awal Gereja menyadari pentingnya keberlanjutan pelayanan apostolik.
Baca Juga: Gereja yang Kudus: Arti Kekudusan Gereja Katolik
Para Rasul Menjadi Saksi Kebangkitan Kristus
Inti pewartaan apostolik bukanlah teori moral atau filsafat keagamaan. Para rasul mewartakan suatu peristiwa: Yesus Kristus yang disalibkan telah bangkit dari antara orang mati.
Kebangkitan menjadi pusat kesaksian mereka.
Sesudah menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta, para rasul tampil dengan keberanian untuk mewartakan Kristus. Petrus yang sebelumnya menyangkal Yesus tampil di hadapan orang banyak dan memberikan kesaksian mengenai kematian serta kebangkitan-Nya.
Kitab Kisah Para Rasul menggambarkan bagaimana pewartaan itu kemudian berkembang dari Yerusalem menuju berbagai wilayah.
Para rasul menghadapi penolakan, penganiayaan, bahkan kemartiran. Namun pewartaan Injil tidak berhenti. Komunitas-komunitas Kristen mulai bertumbuh, dan iman kepada Kristus diteruskan kepada orang-orang yang sebelumnya belum pernah bertemu langsung dengan Yesus selama kehidupan publik-Nya.
Di sinilah sifat apostolik Gereja mulai tampak secara nyata: seseorang mengenal Kristus melalui kesaksian yang diteruskan oleh mereka yang terlebih dahulu menerima Injil.
Gereja Bertekun dalam Pengajaran Para Rasul
Salah satu gambaran paling penting tentang kehidupan Gereja perdana terdapat dalam Kisah Para Rasul 2:42. Umat Kristen pertama bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa.
Empat unsur tersebut tetap sangat penting bagi kehidupan Gereja.
Pengajaran para rasul menjaga iman Gereja agar tetap berakar pada Kristus. Persekutuan mengungkapkan kesatuan umat Allah. Pemecahan roti berhubungan erat dengan kehidupan Ekaristi. Doa menunjukkan hubungan Gereja dengan Allah sebagai sumber kehidupannya.
Karena itu, ciri Gereja yang Apostolik bukan hanya terlihat dalam struktur kepemimpinan, tetapi juga dalam kehidupan iman seluruh komunitas.
Gereja yang apostolik adalah Gereja yang mendengarkan Sabda Allah, merayakan sakramen, hidup dalam persekutuan, dan menjalankan perutusan Kristus.
Tradisi Apostolik dalam Gereja Katolik
Para rasul meneruskan apa yang mereka terima dari Kristus melalui pewartaan, teladan hidup, pengaturan komunitas, dan akhirnya melalui tulisan-tulisan yang menjadi bagian dari Kitab Suci.
Warisan ini berkaitan dengan apa yang disebut Tradisi Apostolik.
Dalam pengertian Katolik, Tradisi bukan sekadar kebiasaan manusia yang muncul dari waktu ke waktu. Tradisi Suci menunjuk pada penerusan Injil yang dipercayakan Kristus dan Roh Kudus kepada para rasul dan diteruskan dalam kehidupan Gereja.
Kitab Suci dan Tradisi Suci karena itu tidak ditempatkan sebagai dua sumber iman yang saling bertentangan. Keduanya berkaitan dengan satu warisan iman yang berasal dari pewahyuan Allah dan diterima serta dihayati oleh Gereja.
Iman Tidak Diciptakan Ulang oleh Setiap Generasi
Sifat apostolik menjaga Gereja dari kecenderungan menjadikan iman sebagai sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh selera zaman.
Setiap generasi memang menghadapi pertanyaan baru. Bahasa, kebudayaan, teknologi, sistem sosial, dan tantangan pastoral terus berubah. Cara menjelaskan iman karena itu dapat berkembang agar dapat dipahami manusia pada zamannya.
Namun isi dasar iman tidak boleh diubah semata-mata karena tekanan budaya.
Tugas Gereja adalah menerima warisan iman, memahaminya semakin mendalam, menjelaskannya dengan bahasa yang dapat dimengerti, menghayatinya secara nyata, dan meneruskannya dengan setia.
Di sinilah sifat apostolik sekaligus menuntut kesetiaan dan pembaruan pastoral. Gereja tidak boleh meninggalkan Injil, tetapi juga tidak boleh berhenti mewartakan Injil kepada dunia yang terus berubah.
Apa Itu Suksesi Apostolik?
Salah satu unsur penting dalam pemahaman Katolik mengenai Gereja yang Apostolik adalah suksesi apostolik.
Suksesi apostolik berarti kesinambungan pelayanan para rasul melalui para uskup. Para uskup tidak menjadi rasul dalam arti yang sama dengan Dua Belas yang menjadi saksi khusus kehidupan dan kebangkitan Kristus. Namun mereka meneruskan tugas pastoral apostolik dalam Gereja.
Sejak masa awal Kekristenan, para rasul menetapkan pelayan-pelayan bagi komunitas Gereja. Pelayanan itu diteruskan dari generasi ke generasi melalui penumpangan tangan dan tahbisan.
Kesinambungan ini bukan hanya rantai historis nama dan jabatan. Tujuannya adalah menjaga kesinambungan iman, sakramen, persekutuan, dan pelayanan Gereja.
Para Uskup sebagai Penerus Para Rasul
Dalam ajaran Katolik, para uskup dipahami sebagai penerus para rasul dalam tugas menggembalakan Gereja.
Mereka memiliki tanggung jawab untuk mengajar, menguduskan, dan memimpin umat Allah.
Tugas mengajar berarti menjaga serta mewartakan iman apostolik. Tugas menguduskan terutama diwujudkan melalui pelayanan sakramental dan kehidupan liturgi. Tugas memimpin berarti menggembalakan umat yang dipercayakan kepada mereka sesuai dengan Injil.
Pelayanan tersebut tidak boleh dipahami sebagai kekuasaan pribadi. Modelnya adalah Kristus sendiri yang datang untuk melayani.
Santo Petrus dan Pelayanan Kesatuan Gereja
Di antara Dua Belas Rasul, Petrus memperoleh peranan khusus dalam kesaksian Perjanjian Baru.
Yesus berkata kepadanya: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (bdk. Mat. 16:18). Dalam Yohanes 21, Kristus yang bangkit juga mempercayakan kepadanya tugas untuk menggembalakan kawanan-Nya.
Gereja Katolik memahami Uskup Roma, yaitu Paus, sebagai penerus Santo Petrus dalam pelayanan kesatuan Gereja.
Namun peranan Paus tidak berdiri terpisah dari para uskup. Pelayanan Petrus dan pelayanan kolegial para uskup ditempatkan dalam persekutuan Gereja yang sama.
Dengan demikian, dimensi apostolik Gereja mempunyai unsur pribadi sekaligus kolegial: terdapat pelayanan penerus Petrus dan terdapat persekutuan para uskup sebagai penerus para rasul.
Apostolisitas dan Sakramen Tahbisan
Kesinambungan apostolik mempunyai hubungan erat dengan Sakramen Tahbisan.
Dalam Gereja Katolik terdapat tiga tingkat Sakramen Tahbisan, yaitu episkopat atau uskup, presbiterat atau imam, dan diakonat atau diakon.
Uskup menerima kepenuhan Sakramen Tahbisan dan menjalankan pelayanan dalam kesinambungan apostolik. Imam menjadi rekan kerja uskup dalam pelayanan pastoral, terutama dalam pewartaan Sabda, pelayanan sakramen, dan penggembalaan umat. Diakon menerima tahbisan untuk pelayanan Sabda, liturgi, dan karya kasih sesuai dengan tugasnya.
Melalui pelayanan tersebut, kehidupan sakramental Gereja diteruskan dari generasi ke generasi.
Ekaristi dan Gereja yang Apostolik
Sifat apostolik Gereja juga tampak secara khusus dalam Ekaristi.
Pada Perjamuan Terakhir, Yesus mengambil roti dan anggur serta memberikan diri-Nya kepada para murid. Gereja terus merayakan Ekaristi sebagai kenangan sakramental akan wafat dan kebangkitan Kristus sesuai dengan perintah-Nya.
Setiap perayaan Ekaristi menghubungkan Gereja masa kini dengan iman Gereja sejak zaman para rasul.
Umat yang berkumpul mungkin hidup dalam budaya, bahasa, dan abad yang sangat berbeda dari para murid pertama. Namun pusat kehidupan mereka tetap sama: Kristus yang wafat dan bangkit.
Karena itu, Ekaristi bukan hanya tindakan devosi pribadi. Ekaristi merupakan tindakan seluruh Gereja dalam persekutuan iman yang diwariskan sejak zaman apostolik.
Kitab Suci dan Kesaksian Apostolik
Kitab Suci Perjanjian Baru mempunyai hubungan sangat erat dengan Gereja apostolik.
Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat apostolik, dan kitab-kitab lainnya lahir dalam lingkungan Gereja perdana serta menjadi kesaksian normatif mengenai Kristus dan iman para rasul.
Gereja tidak berada di atas Sabda Allah seolah-olah dapat memperlakukannya sesuka hati. Sebaliknya, Gereja berada di bawah Sabda Allah dan bertugas melayaninya.
Karena itu, kesetiaan terhadap sifat apostolik menuntut umat Katolik semakin mencintai Kitab Suci.
Membaca Alkitab bukan kegiatan tambahan bagi orang-orang tertentu saja. Sabda Allah merupakan makanan rohani seluruh umat.
Gereja Apostolik Adalah Gereja yang Diutus
Ada satu dimensi yang kadang terlupakan ketika membicarakan apostolisitas: setiap orang yang menerima Injil juga dipanggil untuk menjadi saksi.
Kata apostolos sendiri mengingatkan pada tindakan “diutus”.
Karena itu, Gereja tidak benar-benar menghayati sifat apostolik apabila hanya menjaga warisan iman tanpa mewartakannya.
Kristus memberikan amanat untuk membawa Injil kepada segala bangsa. Amanat tersebut tetap menjadi tugas Gereja sepanjang zaman.
Evangelisasi Merupakan Tugas Seluruh Umat
Evangelisasi bukan hanya pekerjaan Paus, uskup, imam, biarawan, biarawati, atau misionaris.
Setiap orang yang telah dibaptis dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang Kristus sesuai dengan panggilan dan keadaan hidupnya.
Orang tua dapat menjalankan perutusan apostolik dengan memperkenalkan iman kepada anak-anak. Guru dapat melakukannya melalui pendidikan yang menghormati martabat manusia. Kaum muda dapat menjadi saksi Kristus melalui persahabatan, penggunaan media sosial, pelayanan, dan keberanian mempertahankan kebenaran dengan kasih.
Seorang pekerja dapat menjadi saksi Injil melalui kejujuran dan tanggung jawab. Orang yang berkecukupan dapat menjalankannya dengan solidaritas kepada mereka yang membutuhkan. Orang sakit dapat mempersatukan penderitaannya dengan Kristus serta menjadi saksi pengharapan.
Dengan demikian, misi apostolik Gereja berlangsung di tengah kehidupan sehari-hari.
Menjadi Apostolik di Era Digital
Dunia digital menciptakan medan baru bagi pewartaan Injil. Internet dan media sosial memungkinkan pesan menjangkau orang dalam jumlah yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun kesempatan besar tersebut juga membawa tantangan.
Informasi palsu, ujaran kebencian, penghinaan, polarisasi, kecanduan perhatian, dan budaya komunikasi yang agresif dapat merusak kesaksian Kristiani.
Karena itu, menjadi apostolik di ruang digital bukan hanya berarti membagikan kutipan Kitab Suci atau konten keagamaan. Seorang Katolik juga perlu menunjukkan cara berkomunikasi yang sesuai dengan Injil.
Kebenaran perlu disampaikan dengan kasih. Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan. Orang lain tidak boleh direndahkan demi memenangkan perdebatan.
Kesaksian apostolik selalu harus mengarahkan orang kepada Kristus, bukan kepada ego orang yang mewartakan-Nya.
Tantangan Gereja yang Apostolik pada Zaman Modern
Gereja hidup di tengah dunia yang terus berubah. Sekularisasi, relativisme moral, perkembangan teknologi, perubahan struktur keluarga, ketidakadilan sosial, konflik, migrasi, krisis ekologis, dan berbagai persoalan kemanusiaan menghadirkan tantangan pastoral yang nyata.
Menghadapi keadaan tersebut, Gereja tidak dipanggil untuk sekadar bernostalgia pada masa lalu.
Menjadi apostolik bukan berarti meniru semua bentuk kehidupan Gereja abad pertama secara literal. Yang harus dijaga adalah iman apostolik, sementara cara pewartaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan manusia pada setiap zaman.
Para rasul sendiri memberikan contoh keberanian untuk memasuki lingkungan baru. Santo Paulus berbicara kepada orang Yahudi maupun bangsa-bangsa lain. Ia berusaha menyampaikan Injil dengan cara yang dapat dipahami pendengarnya tanpa mengubah inti pewartaan tentang Kristus.
Prinsip tersebut tetap relevan sekarang: cara dapat berkembang, tetapi Kristus tetap pusat pewartaan.
Hubungan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik
Keempat sifat Gereja tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Gereja adalah satu karena sumber kesatuannya adalah Allah dan Gereja dipersatukan dalam Kristus.
Gereja adalah kudus karena Kristus menguduskannya dan Roh Kudus berkarya di dalamnya, meskipun para anggotanya tetap manusia yang membutuhkan pertobatan.
Gereja adalah katolik karena Kristus hadir di dalamnya dan Gereja diutus kepada seluruh bangsa.
Gereja adalah apostolik karena berdiri di atas dasar para rasul, menjaga iman mereka, dan meneruskan perutusan mereka.
Keempat sifat tersebut bersama-sama membantu menjelaskan identitas Gereja dalam rencana keselamatan Allah.
Bagaimana Umat Katolik Menghayati Sifat Apostolik?
Mengakui Gereja yang Apostolik dalam Syahadat seharusnya mempunyai konsekuensi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Umat Katolik pertama-tama dipanggil untuk semakin mengenal iman yang diwariskan para rasul. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca Kitab Suci, mempelajari Katekismus Gereja Katolik, mengikuti pembinaan iman, dan mendengarkan pengajaran Gereja.
Namun pengetahuan saja tidak cukup.
Iman apostolik harus diwujudkan dalam kehidupan.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal mengenai agama tetapi tidak menunjukkan kasih kepada sesama. Karena itu, kesetiaan kepada ajaran para rasul harus berjalan bersama pertobatan hidup.
Umat juga dipanggil untuk menjaga persekutuan Gereja. Perbedaan karakter, budaya, pandangan, dan latar belakang tidak boleh dengan mudah menghancurkan persaudaraan.
Akhirnya, umat harus berani menjalankan perutusan. Iman yang diterima bukanlah harta yang disimpan untuk diri sendiri, melainkan kabar sukacita yang harus dibagikan.
Nilai Rohani dari Gereja yang Apostolik
Sifat apostolik memberikan beberapa pelajaran rohani penting.
Pertama, iman mempunyai akar. Orang Katolik tidak berjalan sendirian. Ia berada dalam persekutuan iman yang membentang melintasi banyak generasi.
Kedua, iman adalah sesuatu yang diterima sebelum diteruskan. Tidak seorang pun menjadi sumber Injil. Semua orang terlebih dahulu menerimanya sebagai anugerah.
Ketiga, kesetiaan tidak berarti pasif. Para rasul menerima Injil dan kemudian pergi mewartakannya. Karena itu, semakin seseorang mengenal Kristus, semakin ia dipanggil menjadi saksi-Nya.
Keempat, pelayanan harus dilakukan dalam kerendahan hati. Seorang utusan tidak mewartakan dirinya sendiri. Ia membawa pesan dari pihak yang mengutusnya. Demikian pula seorang murid Kristus tidak mencari kemuliaan pribadi, melainkan berusaha membawa orang kepada Tuhan.
Refleksi Iman: Kita Pun Diutus
Ada pertanyaan yang patut direnungkan setiap umat Katolik: Jika para rasul telah meneruskan iman kepada generasi berikutnya, kepada siapa kita akan meneruskan iman yang telah kita terima?
Mungkin kepada anak-anak kita.
Mungkin kepada sahabat.
Mungkin kepada seseorang yang sedang kehilangan harapan.
Mungkin melalui pekerjaan yang dilakukan dengan jujur.
Mungkin melalui pelayanan sederhana yang tidak pernah diketahui banyak orang.
Menjadi bagian dari Gereja yang Apostolik berarti menyadari bahwa kita berada dalam sebuah rantai kesaksian yang panjang. Injil sampai kepada kita karena ada orang-orang sebelum kita yang percaya, berdoa, mengajar, melayani, berkorban, dan meneruskan iman.
Sekarang kita berada dalam mata rantai tersebut.
Tugas kita bukan menciptakan Injil baru, tetapi menerima Kristus dengan sungguh-sungguh dan memberikan kesaksian tentang-Nya kepada dunia kita.
Doa agar Setia pada Iman Apostolik
Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur karena melalui Putra-Mu, Yesus Kristus, Engkau memanggil para rasul dan mengutus mereka untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa.
Kami bersyukur karena melalui kesaksian para rasul dan kehidupan Gereja, kabar keselamatan telah diteruskan dari generasi ke generasi hingga sampai kepada kami.
Curahkanlah Roh Kudus-Mu agar kami semakin mencintai Sabda-Mu, setia kepada iman yang kami terima, hidup dalam persekutuan Gereja, dan berani menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Bimbinglah Paus, para uskup, imam, diakon, kaum hidup bakti, dan seluruh umat beriman agar menjalankan tugas masing-masing dengan kerendahan hati, kebijaksanaan, dan kasih.
Semoga teladan para rasul mendorong kami untuk tidak menyimpan iman hanya bagi diri sendiri, tetapi membagikan sukacita Injil melalui perkataan, tindakan, pelayanan, dan kehidupan kami.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Kesimpulan
Gereja yang Apostolik berarti Gereja yang dibangun di atas dasar para rasul dengan Kristus sebagai batu penjuru, menjaga warisan iman apostolik, hidup dalam kesinambungan pelayanan para rasul melalui para uskup, serta terus menjalankan perutusan untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa.
Apostolisitas menghubungkan Gereja masa kini dengan komunitas murid pertama yang menerima amanat langsung dari Kristus. Hubungan tersebut bukan sekadar kesinambungan historis, tetapi terutama kesinambungan iman, sakramen, persekutuan, dan perutusan.
Karena itu, sifat apostolik tidak hanya berkaitan dengan Paus, para uskup, atau struktur hierarki Gereja. Seluruh umat beriman ikut mengambil bagian dalam perutusan Gereja sesuai panggilan masing-masing.
Setiap kali seorang Katolik menghidupi Injil, mendidik anak dalam iman, melayani orang miskin, mempertahankan kebenaran dengan kasih, mengampuni, membawa pengharapan, serta memberikan kesaksian tentang Kristus, ia ikut mengambil bagian dalam misi apostolik Gereja.
Gereja menerima Injil dari Kristus melalui para rasul bukan untuk menyimpannya, tetapi untuk meneruskannya. Dari Yerusalem, pewartaan itu bergerak melintasi bangsa, bahasa, budaya, dan zaman. Kini tugas yang sama dipercayakan kepada Gereja masa sekarang: menerima iman dengan setia, menghidupinya dengan sungguh-sungguh, dan mewartakannya dengan penuh kasih.
Demikianlah Gereja yang Apostolik: Arti dan Dasar Iman Katolik, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.
